Thursday, November 26, 2009

Wartawan AS: Siapa Dibelakang Serangan 9/11 Makin Terkuak

Wartawan investigasi AS, Christopher Bollyn menemukan sejumlah fakta baru yang menguak takbir misteri seputar tragedi serangan 11 September 2001 terhadap gedung kembar World Trade Center.

Dalam laporan hasil investigasinya yang dimuat di situs berita Rebel News, Bollyn mempertanyakan keganjilan yang terjadi saat detik-detik gedung kembar WTC itu ambruk ke tanah. Ia menulis, saat kejadian, sekitar 425.000 kubik meter beton dari gedung berlantai 220 itu hancur menjadi puing sebelum benar-benar ambruk ke tanah, sehingga menimbulkan debu panas membentuk asap piroklastik yang sangat tebal dan bergulung-gulung di jalan-jalan Manhattan.

Bollyn juga mengungkap fakta baru bahwa ketika serangan 11 September terjadi, seluruh gedung kembar World Trade Center statusnya dibawah kepemilikan atau sedang disewakan pada seorang inevstor Yahudi Zionis yang cukup berpengaruh di AS, bernama Larry Silverstein. Silberstein ternyata seorang pengusaha "hitam" karena sejak masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, Silverstain dikenai dakwaan kasus penyelundupan narkoba.

Fakta tentang latar belakang investor Yahudi itu, tulis Bollyn, kemungkinan bisa menjelaskan apa sebenarnya yang telah menyebabkan gedung kembar WTC bisa luluh lantak dan ambruk. Bollyn meragukan teori yang selama ini dikedepankan kelompok-kelompok Zionis dan kelompok lobi Israel pada pemerintah AS dan media massa, bahwa gedung kembar itu roboh dengan bentuk seperti kue panekuk. Karena menurut Bollyn, tidak ada sisa beton dan serpihan mental yang masih saling menempel, yang bisa ditemukan dalam puing reruntuhan.

Dalam artikelnya Bollyn menegaskan, jika dilihat dari serpihan beton menara kembar dan debu berbentuk asap piroklastik serta adanya zat aktif super-termit yang ditemukan di sisa-sisa debu, sulit menyimpulkan bahwa kehancuran total menara kembar disebabkan oleh tabrakan pesawat yang menghantam bagian atap gedung.

Dalam artikelnya, Bollyn juga menjelaskan mengapa ia memutuskan pindah ke Jerman dengan membawa serta keluarganya. Ia mengatakan, keputusannya pindah bertepatan dengan "perang melawan teror" yang dirancang Israel dan kemudian dilaksanakan oleh mantan presiden AS, George W. Bush.

"Dari riset awal saya terhadap bukti-bukti dan laporan-laporan media, ada indikasi kuat bahwa intelejen militer Israel lah pelaku serangan 11 September 2001 yang menghancurkan menara kembar. Operasi teroris itu dilakukan untuk menjadikan pimpinan Al-Qaida, Usamah bin Ladin sebagai kambing hitamnya. Kaum Zionis yang sudah mengendalikan pemerintahan AS dan media massa, menjadikan tragedi 11 September untuk mendorong invasi dan penjajahan di Afghanistan," tulis Bollyn.

Ia juga mengungkap dan membeberkan insiden serangan yang dialaminya pada bulan Agustus 2006. Sekelompok polisi yang menyamar, masuk ke dalam rumahnya dan menyerangnya hingga sikunya patah. "Saya pun sadar bahwa insting saya pada tahun 2001 benar dan AS bukanlah tempat yang aman untuk menyelidiki peristiwa serangan 11 September," ungkap Bollyn.

Di akhir bulan November 2001, Bollyn berkesempatan bertemu dengan mantan anggota parlemen yang juga pakar intelejen, Andreas von Bülow di rumahnya di dekat kawasan Cologne, Jerman. Mereka berdiskusi dan sepakat bahwa ada peran intelejen Israel dalam serangan 11 September 2001 yang dikamuflasekan sebagai serangan teroris yang dilakukan oleh kelompok Al-Qaida.

Untuk melengkapi investigasinya, Bollyn juga menjumpai Markus "Mischa" Wolf, seorang Yahudi Jerman yang dikenal sebagai mata-mata ulung dan pernah memimpin operasi-operasi intejen di Jerman Timur selama 35 tahun. Bollyn menulis, Markus Wolf yang lahir pada tahun 1923 di selatan Jerman, berasal dari keluarga Yahudi yang cukup berpengaruh. Selama masa Perang Dunia II, Wolf dan keluarganya yang komunis menetap di Uni Sovyet. Setelah perang usai, keluarga Wolf dikirim ke Berlin bersama Walter Ulbricht, seorang pendiri kelompok totalitarian DDR di Jerman Timur.

"Dia (Wolf) bekerja sebagai wartawan di sebuah stasiun radio di wilayah Jerman yang masih dikuasai Soviet dan menjadi salah satu saksi mata dalam proses persidangan Nuremberg," tulis Bollyn. Persidangan Nuremberg adalah persidangan untuk mengadili para tentara Nazi setelah kalah dalam Perang Dunia II. Wolf, tambah Bollyn, meninggal pada 9 November 2006 bertepatan dengan peringatan 17 tahun runtuhnya tembok Berlin.

Selain Wolf, tokoh Yahudi lainnya yang ditemui Bollyn adalah Frau Marek yang bekerja untuk sejumlah agen intelejen termasuk agen intelejen Israel, Mossad. "Marek punya latar belakang ilmu fisika dan ia mengatakan pada saya bahwa ia punya informasi tentang senjata sinar infra merah yang bisa diarahkan energinya dan senjata itu dikembangkan oleh Uni Soviet," tulis Bollyn.

Mengutip keterangan Marek, Bollyn mengatakan bahwa senjata infra merah itu kemungkinan digunakan dalam peristiwa serangan 11 September 2001 ke menara kembar WTC. Senjata itu menurut Marek mampu meluluhlantakkan menara-menara beton seperti menara kembar WTC di New York. (ln/prtv)

Postingan ini dikutip dari;http://www.eramuslim.com/berita/dunia/wartawan-as-siapa-dibelakang-serangan-9-11-makin-terkuak.htm

Thursday, November 19, 2009

Kontestan Finalis Word Cup 2010 di Afrika Selatan

Berikut daftar finalis Piala Dunia 2010:

EROPA
Denmark
Jerman
Spanyol
Inggris
Serbia
Italia
Belanda
Swiss
Slovakia
Portugal
Yunani
Prancis
Slovenia

AFRIKA

Afrika Selatan (tuan rumah)
Ghana
Pantai Gading
Kamerun
Nigeria
Aljazair

ASIA/OCEANIA
Australia
Jepang
Korea Selatan
Korea Utara
Selandia Baru

CONCACAF:

Amerika Serikat
Meksiko
Honduras

AMERIKA SELATAN
Brasil
Paraguay
Cile
Argentina
Uruguay

Saya menjagokan Prancis keluar sebagai pemenang pada gelaran tersebut, meskipun terseok-seok pada babak penyisihan, bukan berarti otomatis akan bernasib tragis di babak final, kita tunggu aksi-aksi Si Ayam Jantan dari Benua Biru.
Bila bukan Prancis yang keluar sebagai pemenang, maka kemungkinan kedua adalah Argentina, saya sangat menyukai sosok sang pelatih Diego Armando Maradona (minus kelakuan 'gila'nya) beberapa waktu lalu tentunya.

Pemain Sepak Bola Muslim di Liga Eropa

PREMIER LEAGUE Inggris

1. Emanuel Eboue (Arsenal/Pantai Gading)

2. Samir Nasri (Arsenal/Prancis)

3. Armand Traore (Arsenal/Prancis)

4. Nicolas Anelka, Abdul Salam Bilal (Chelsea/Prancis)

5. Salomon Kalou (Chelsea/Pantai Gading)

6. El Hadji Diouf (Blacburn Rovers/Senegal)

7. Diomansy Kamara (Fulham/Senegal)

8. Kolo Toure (Mancester City/Pantai Gading)

9. Abdoulaye Faye (Stoke City/Senegal)

10.Ibrahima Sonko (Stoke City/Senegal)

11.Papa Bouba Diop (Portsmouth/Senegal)

12.Younes Kaboul (Portsmouth/Prancis)

13.Nadir Belhadj (Portsmouth/Aljazair)

14.Hameur Bouazza (Birmingham/Aljazair)

15.Nabil El Zhar (Liverpool/Maroko)

SERIE A Italia

1. Hasan Salihamidzic (Juventus/Bosnia)

2. Sulley Muntari (Inter Milan/Ghana)

3. Mohammed Sissoko (Juventus/Prancis)

4.Mourad Meghni (Lazio/Prancis)

5. Samir Handanovic (Udinese/Slovenia)

6. Blerim Dzemaili (Torino/Swiss)

7. Ahmad Baruso (Siena/Ghana)

8. Ousmane Dabo (Lazio/Prancis)

LIGA PRIMERA Spanyol

1. Karim Benzema (Real Madrid/Prancis)

2. Lassana Diarra (Real Madrid/Prancis)

3. Mahammadou Diara (Real Madrid/Mali)

4. Yaya Toure (Barcelona/Pantai Gading)

5. Seydou Keita (Barcelona/Mali)

6. Eric Abidal (Barcelona/Prancis)

7. Zlatan Ibrahimovic (Barcelona/Swedia)

8. Frederic Kanoute (Sevilla/Mali)

9. Abdoulay Konko (Sevilla/Prancis)

10. Mohammed Tchite (Racing Santander/Burundi)

11. Pascal Cygan (Vilareal/Prancis)

BUNDESLIGA Jerman

1. Franck Ribery (Bayern Muenchen/Prancis)

2. Hamit Altintop (Bayern Muenchen/Turki)

3. Halil Altintop (Schalke/Turki)

4. Karim Zaini (VfL Wolfsburg/Aljazair)

5. Askhan Dejagah (VfL Wolfsburg/Iran)

6. Khalid Boulahrouz (VfB Stuttgart/Belanda)

7. Sami Khedira (VfB Stuttgart/Jerman)

8. Serdar Tasci (VfB Stuttgart/Jerman)

9. Mohamed Zidan (Borussia Dortmund/Mesir)

10.Mohamed El Yaaqoubi (Real Sociedad/Maroko)

EREDEVISIE Belanda

1. Ibrahim Afellay (PSV Eindhoven/Belanda)

2. Ismail Aissati (Ajax Amesterdam/Belanda)

3. Miralem Sulejmani (Ajax Amesterdam/Serbia)

4. Rachid Bouazan (NEC Nijmegen/Belanda-Maroko)

5. Tarik Elyouonusi (SC Herenveen/Norwegia)

6. Nuri Sahin (Feyenord/Prancis)

LIGUE 1 Prancis

1. Hatem Ben Arfa (Olypique Marseille/Prancis)

2. Djimi Traroe (AS Monako/Mali)

Liga lainnya

1. Zlatan Muslimovic (PAOK Saloniki/Bosnia)

2. Sheki Kuqi (Ipswich/Finlandia)

3. Mohammed “Mo” Camara (St Mirren/Guinea)

Tuesday, November 17, 2009

Permohonan Maaf Kepada PT Indocool Solusi Cemerlang

Saya menyatakan menyesal dan memohon maaf atas ketidaknyamanan salah satu perusahaan yang menjadi costumer saya, yaitu PT Indocool Solusi Cemerlang, sehubungan dengan pemuatan postingan saya yang berjudul "MY Journey to PT Indocool". Tidak ada maksud saya membuat PT Indocool Solusi Cemerlang dan/atau staf/karyawannya tidak nyaman, tulisan tersebut semestinya saya tulis sebagai diary saya, namun ketika saya membuka Blog, terlintas untuk mem-postingnya. Sebagai bentuk kongkrit permintaan maaf dan penyesalan, mulai saat ini tulisan tersebut saya hapus dari Blog ini.
Pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih atas koreksi yang Anda sampaikan.

Tuesday, November 03, 2009

Noam Chomsky; "Obama 'Godfather' Baru AS"

Intelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky "prinsip-prinsip mafia" dalam kebijakan luar negerinya.

"Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda," ujar Chomsky.

Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.

Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan "prinsip mafia".

Iran dan Irak

"Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi 'para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses'. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan "virus" yang bisa menular kemana-mana,"papar Chomsky.

Dan salah satu "virus" yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. "Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran," kata Chomsky.

Tapi AS kembali harus menghadapi "virus" pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan "virus" itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk melakukan invasi ke Iran.

"Sampai detik ini, AS masih terus 'menyiksa' Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya," sambung Chomsky.

Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.

Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah.

"AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS," tukas Chomsky.

Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan "genosida" terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.

Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk "pertahanan" negara atau "intervensi demi kepentingan kemanusiaan."

Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.

Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan "sumber dari kekuatan strategis" dan "salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia". Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan "wilayah yang secara strategis paling penting di dunia."

Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.

Somalia, Darfur dan Israel

Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup.

Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.

"Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia," ujar Chomsky.

Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. "Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan 'orang-orang Arab' dan menyebut 'para penjahat' sebagai otak dari kekacauan di Darfur," tukas Chomsky.

Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.

Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang kuat dari Barat.

"Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas Palestina," tandas Chomsky. (ln/mol)