Wednesday, March 31, 2010

Hasil Muktamar NU Ke 32

Muktamar NU ke 32, yang bertempat di Asrama Haji Sudiang, Makasar, Sulawesi Selatan, berlangsung dari tanggal 23-28 Maret 2010, berhasil memilih KH A Sahal Mahfudh sebagai Rais Aam Syuriah PBNU periode 2010-2015, sedangkan KH Said Aqil Siradj terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNU untuk periode yang sama.

Pemilihan diawali dengan melakukan penjaringan nama-nama calon Rais Aam sesuai usulan setiap pengurus wilayah dan pengurus cabang NU. Dari 503 pengurus yang memiliki hak suara, terdapat 2 pengurus yang tidak menggunakan haknya.

Hasilnya, terjaring 14 nama calon Rais Aam. Sesuai tata tertib muktamar, nama-nama yang diajukan peserta dapat ditetapkan sebagai calon Rais Aam bila memperoleh dukungan minimal 99 suara. Calon yang memperoleh suara dukungan minimal itu adalah KH Sahal dengan 272 suara, dan KH Hasyim Muzadi dengan 108 suara.

Sesaat setelah ditetapkan sebagai calon Rais Aam, KH Hasyim Muzadi mengajukan surat kepada panitia. Isi surat yang dibacakan oleh Zein Irwanto itu menyatakan KH Hasyim Muzadi tidak bersedia dicalonkan sebagai Rais Aam.

Sikap KH Hasyim itu sempat membuat sejumlah pendukungnya histeris dan kecewa. Namun, banyak pula yang memuji sikap besar KH Hasyim itu demi menjaga kehormatan ulama.

Karena KH Hasyim mundur, calon Rais Aam yang berhak tinggal KH Sahal. Sesuai aturan, jika hanya ada satu calon, ia langsung ditetapkan sebagai Rais Aam secara aklamasi.

Adapaun terpilihnya KH Said Aqil Siradj berlangsung dalam satu kali pemilihan. Dari penjaringan nama-nama calon ketua umum, terdapat 10 nama. Namun, yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai calon ketua umum dengan mengantongi minimal 99 dukungan suara hanya KH Said Aqil Siradj dengan 178 suara dan Slamet Effendi Yusuf 158 suara. Kandidat yang tak lolos adalah KH Salahudin Wahid (83 suara), Ahmad Bagja (34) suara, Ulil Absar Abdalla (22), KH Ali Maschan Moesa (8), dan KH Masdar F Mas’udi.

Dalam pemilihan dengan dua kandidat itu, akhirnya KH Said Aqil Siradj terpilih dengan mendapatkan 294 suara, mengungguli Slamet Effendy Yusuf dengan 201 suara.

Demikian dilaporkan Kompas edisi 28 Maret 2010

Pinangan Dalam Impian

Kawan, ia kini benar-benar telah pergi
bersama dengan lelaki yang –ternyata- sekian lama
telah melukis bulir-bulir asmara di hatinya
lelaki yang jejaknya ia sembunyikan dengan rapat
di balik semua yang ia berikan kepadaku
lelaki yang sejatinya memang telah seringkali mengisi malam-malamnya
bahkan ketika ia asyik bercengkrama denganku
lelaki yang juga pernah membuatnya seakan tak mengenalku
pada Jumat kelabu hampir setahun yang lalu
waktu sudut jantung kota ini meledak untuk kesekian kalinya
membuatku was-was dan khawatir, mirip pahlawan kesiangan
ia yang kutahu memang tengah bersemayam di belantara sana
tentu saja tengah bersama dengannya

Kawan....,
malam ini
sebelum ia menuju puncak segalanya
menggapai purnama yang membuat mukanya merah pasi
menikmati kebersamaan
yang tak berbatas perih, sakit, nikmat dan indahnya
kami masih sempat bertegur sapa
ia masih tetap seperti yang dulu, seperti hampir setahun yang lalu
ketika ia baru menyapaku
ia santun, lembut dan bersahaja

Kau tahu kawan....
ia juga berjanji
suatu saat akan membawakan mawar buatku
yang ia petik dari taman paling indah yang dimilikinya
kupinta untuk memetiknya dari taman yang sama dengan ia keluar darinya
meski menurutnya sudah tidak berbunga lagi
sebab semuanya sudah ada yang memetiknya

Kawan...
usah kau tanya pedih perihku
aku benar-benar tak merasakannya –lagi-
meski beribu rasa menderuku
aku tahu ia tetaplah akan seperti itu
dan aku tahu, aku tidak keliru


Utan Kayu 28 Maret 2010

Saturday, February 20, 2010

Memilih Resiko yang Paling Besar

Seringkali dalam hidup ini kita dihadapkan pada beberapa pilihan yang sama sulitnya, tak jarang diantara pilihan-pilihan tersebut mengandung dilema yang memojokkan kita, sementara di sisi lain, kita tahu persis, bahwa setiap pilihan pasti ada resiko yang menyertainya, dengan kata lain, resiko tersebut merupakan konsekuensi logis dari setiap pilihan yang kita ambil atau putuskan. Maka wajar bila yang menjadi salah satu dasar dalam menentukan pilihan adalah hitungan resiko yang diakibatkan oleh pilihan tersebut. Biasanya orang kemudian mengkalkulasi pilihan mana yang paling minim resikonya apabila putusan diambil, sebab dengan begitu, orang akan tidak direpotkan apabila resiko dibalik pilihan tersebut ternyata benar-benar tidak bagus, baik bagi karier, keluarga maupun masa depannya.
Saya sangat terinspirasi dengan salah satu pesan Pak Julian Balia, gurunya Ikal dan Arai di Laskar Pelangi jilid 2 (Sang Pemimpi), beliau mengatakan “…Ambillah resiko yang paling besar, maka hidupmu akan menjadi kaya”. Dari apa yang beliau katakan, kita menangkap makna ada keanehan dalam pernyataan tersebut, kenapa mesti ‘resiko yang paling besar’ yang harus diambil? Namun bila kita mencermati lanjutan dari pesan tersebut, kita akan mendapati alasannya, adalah ‘maka hidupmu akan menjadi kaya’. Saya menafsirkan kata ‘kaya’ pada pesan tersebut tidak selalu bermakna kaya harta, tapi lebih dari sekedar itu, kaya pengalaman misalnya, kaya hati misalnya, dalam artian orang menjadi semakin bijak dan arif.
Beberapa waktu yang lalu saya mengalami kejadian tersebut, saya dihadapkan pada dua pilihan berkaitan dengan pekerajaan saya, ada calon costumer yang memberi kepercayaan kepada saya untuk menghandle sebuah project, sebuah pekerjaan yang meski saya pernah mengerjakan jenis pekerjaan tersebut, namun volume dan tingkat kesulitan project tersebut jauh diatas yang biasa saya kerjakan. Pilihannya, antara saya mengambil project tersebut atau tidak mengambil. Setelah mengkalkulasi dan memprediksi resiko apa yang ada dibalik kedua pilihan tersebut, saya berkesimpulan bahwa saya dihadapkan pada sebuah dilema, bila saya menyanggupi mengerjakan project tersebut, dan saya gagal, maka saya benar-benar hancur, hancur dalam artian yang sesungguhnya, baik reputasi pribadi maupun pekerjaan saya, juga keuangan saya, demikian pula bila saya tidak bersedia menyanggupi project tersebut, hancur pula reputasi saya dihadapan calon costumer, dan saya juga tidak akan mendapatkan income yang pada saat tersebut sangat saya butuhkan. Namun hasil kalkulasi saya, tetap saja resiko yang besar bila saya memutuskan mengambil project tersebut.
Terngiang dengan apa yang diucapkan oleh Pak Julian Balia, bahwa bila kita mau mengambil resiko yang paling besar maka akan menjadi kaya, saya putuskan untuk mengambil project tersebut, meski resiko yang ‘mengancam’ dibalik project tersebut sangat menyeramkan.
Dua minggu saya mengerjakan project tersebut, dan memang tantangan yang saya hadapi selama mengerjakan project tersebut sangat pelik dan beragam, memimpin satu tim beranggotakan 16 personel dengan support dari perusahaan saya yang sangat minim. Tantangan yang saya hadapi dari mulai pengaturan schedule, sehingga target waktu bisa tercapai, mengendalikan Technical Chemist yang punya karakter moral hazard, memompa spirit anggota tim yang sering angin-anginan, menghadapi costumer yang tak jarang banyak menuntut, dan sekian ragam kesulitan yang benar-benar tak terduga.
Alhamdulillah meski dengan aneka rupa problem dan kesulitan, akhirnya project bisa selesai sesuai target, baik dari sisi volume kerja maupun rentang waktu yang diberikan oleh costumer. Dan dari project tersebut, saya memang benar-benar ‘menjadi kaya’, kaya dari segi pengalaman maupun materi. Dari segi pengalaman, saya jadi tambah banyak pengetahuan, baik mengenai memimpin tim, maupun mengenai seluk-beluk project semacam tersebut, secara materi, saya mendapatkan income yang lumayan besar, bagi saya merupakan sebuah rekor, sebab merupakan income terbesar yang pernah saya peroleh.
Benar seperti yang dikatakan oleh Pak Julian Balia, bila kita mengambil resiko yang paling besar, maka kita akan menjadi kaya. Dalam dunia investasi, prinsip tersebut dikenal dengan istilah ‘Hight risk, hight return’.
Dari pelajaran tersebut, saya bertekad untuk mengambil resiko yang paling besar, manakala saya dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam perjalanan hidup. Tentu saja dengan mengkalkulasi dan mencari solusi atas beberapa kemungkinan resiko yang muncul.
Semoga Allah Swt senantiasa menunjukkan jalan yang benar, dan memberi kekuatan kepada saya untuk menapaki kebenaran tersebut, amiin.

Thursday, February 18, 2010

Semua Kembali Kepada Kita

Rabu, 17 November 2010, setelah menyelesaikan aktivitas di kantor, berdua dengan Kuncoro, staff chemist di kantor, saya pergi bermaksud visit ke calon costumer yang berada di daerah Daan Mogot Jakarta Barat, untuk menanyakan hasil trial chemical yang kami sampaikan kepada beliau dua hari sebelumnya, alhamdulillah kami bisa bertemu, ternyata beliau belum mencobanya. Beliau ini minta dicarikan chemical yang bisa digunakan untuk memisahkan antara lubric dan tembaga, ternyata belia belum mencobanya, disamping kami menyampaikan cara penggunaan chemical tersebut, ketika belia menayakan harganya, kami sampaikan bahwa kami mengusulkan bentuk kerjasama, kemudian saya berpamitan pergi, setelah sebelumnya saya menyerahkan kartu nama saya kepada beliau, agar bila ada yang ingin beliau sampaikan, beliau bisa segera menghubungi saya, kemudian saya berpamitan. Rumah Makan Padang di Pasar Semanan yang kami tuju, untuk makan siang. Usai makan siang saya pergi mengunjungi calon costumer yang lain, kantornya terletak di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan, kali ini tujuannya adalah untuk menyampaikan penawaran produk Chemical Rust Converter ke beliau, sebab sehari sebelumnya saya sudah menyampaikan presentasi dan juga mendemokan produk tersebut, dan beliau berkenan dengan hasil demo.

Ketika hendak pulang, saya sadar bahwa bensin di motor sudah tinggal sedikit, saya buka tangki untuk memastikan, ternyata benar adanya, bensin dalam tangki sudah sangat minim, benar-benar tidak mencukupi untuk sampai ke SPBU yang terdekat. Akhirnya dengan berjalan kaki saya putuskan untuk mencari penjual bensin eceran yang ada di sekitar situ, setelah mendapat info dari salah satu Satpam gedung, saya datangi tempatnya ternyata tidak ada, kemudian ketika kembali ke tempat parker, saya jumpai seorang bapak yang tengah asyik mengelap motornya, saya Tanya ke beliau, dimana tempat terdekat orang jual bensin eceran di kawasan tersebut, sebelum beliau menjawab, beliau berpikir sejenak, untuk kemudaian beliau (malah) balik bertanya: “Mas naik motor atau mobil?” saya katakan bahwa saya naik motor, beliau mengatakan bahwa tempat penjual bensin ada, tapi jauh dari lokasi tersebut, kemudian menyarankan agar saya naik ojek saja. Begitu mendengar ia menyarankan agar saya naik ojek, insting saya berbicara bahwa sejatinya bapak tersebut adalah tukang ojek yang tengah menunggu ‘mangsa’ eh…penumpang maksud saya. Dari hal tersebut saya menjadi tidak percaya dengan yang dikatakannya. Saya putuskan untuk bertanya lagi kepada salah satu Satpam gedung tempat saya memarkir motor, beliau menunjukkan arah agar saya lurus, tak jauh dari tempat tersebut ada penjual bensin eceran, akhirnya saya putuskan untuk mengikuti petunjuk dari Pak Satpam tersebut, saya keluarkan motor dari parkiran, kemudian saya meluncur sesuai arah yang ditunjukkan, akhirnya setelah sempat keterusan, saya temukan juga penjual bensin eceran yang saya cari, ternyata memang tidak jauh dari gedung tempat saya memarkir motor. Saya semakin membenarkan insting saya, bahwa bapak yang saya temui sedang mengelap motor tersebut telah menipu saya, beliau bilang bahwa penjual bensin eceran jauh, padahal (ternyata) tidak jauh, jaraknya kurang dari 300 meter dari tempat saya bertanya, bapak tersebut menipu saya dengan tujuan agar saya memakai jasanya, yaitu naik ojek.

Saya sedih bukan karena saya dipermainkan, namun saya berpikir barangkali suatu saat yang lalu, entah kapan dan dimana, saya pernah menipu orang, sehingga saya ditipu orang pada saat saya membutuhkan bantuan penunjuk arah. Saya termasuk orang yang percaya bahwa perbuatan apapun itu, baik atau buruk, pasti akan kembali kepada diri kita sendiri, hanya saja waktunya kapan dan bentuknya apa, kita tidak pernah tahu.

Meski di sisi lain saya bisa memaklumi bapak tukang ojek tersebut, namun tetap saja bagi saya peristiwa tersebut menjadi pelajaran dan sekaligus peringatan yang sangat berkesan bagi diri saya; bahwa perbuatan apapun yang saya lakukan, baik ataupun buruk, dan kepada siapapun perbuatan itu saya lakukan, cepat atau lambat, disadari atau tidak, pasti akan kembali kepada diri saya sendiri.

Wednesday, February 10, 2010

Sembilan Prinsip Bisnis Arifin Panigoro

Dikutip dari Kompas, edisi Ahad, 24 Januari 2010
Tulisan ini juga saya posting di milis Komunitas Tangan Diatas (tangandiatas@yahogoups.com)

Arifin Panigoro, pendiri Medco Group, dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Kuasai Teknologi, Bangun Ekonomi, Tegakkan Martabat Bangsa” saat menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam bidang tekhnopreunership dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu 23 Januari 2010, secara khusus mengetahkan filosofinya dalam berbisnis. Filosofi tersebut merupakan prinsip mendasar dalam menjalankan bisnis beliau, yang kesemuanya berjumlah sembilan poin, yaitu;
1. Intuisi, memadukan kata hati dan akal sehat.
2. Kesetaraan, bersikap adil (meski) pada lawan sekalipun.
3. Kejujuran, jujur itu langgeng.
4. Percaya diri, (yakinkan diri, pengaruhi orang lain).
5. Jejaring, satu juta kawan kurang, satu lawan jangan.
6. Tanggung jawab, tunaikan kewajiban, hadapi persoalan.
7. Sumber daya manusia, pilih yang terbaik dan berdayakan.
8. Inovasi (berkarya tanpa jeda), serta
9. Peduli (menumbuhkan enterpreunership).
Dari kesembilan prinsip bisnis yang beliau peroleh dari proses belajar panjang tersebut, ternyata delapan prinsip diantaranya berkaitan dengan karakter, Cuma satu prinsip yang berkaitan dengan kompetensi.
Pada kesempatan tersebut beliau juga menyampaikan bahwa; “Dalam menegakkan prinsip-prinsip tersebut, saya bisa memahami pernyataan Ken Blanchard, ‘Kalau Anda selalu dihadapkan pada pilihan yang mudah, Anda tidak akan pernah membangun karakter.’ Begitulah yang saya alami dalam mengelola dan mengembangkan Medco Group. Ketika prahara krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1997, tak ayal perusahaan yang saya pimpin ini terbelit utang besar akibat nilai tukar rupiah merosot tajam dan kesulitan likuiditas,”.
Pada saat itulah, karakter pengusaha, yaitu prinsip tanggung jawab yang beliau pelajari dari almarhum ayah beliau yang pengusaha, (salah satunya bahwa pengusaha harus bisa membayar utang dengan konsekuensi apapun) menjadi relevan. Berkat prinsip itulah, awal 2005, mayoritas saham perusahaannya bisa beliau kuasai kembali.
“Saya berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang, berbisnis yang didasari prinsip-prinsip yang baik, yang secara umum sering disebut berbisnis dengan berpegang teguh pada etika, adalah jaminan utama bagi terselenggaranya kegiatan bisnis dan tercapainya tujuan bisnis yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” ujar beliau.


Wednesday, February 03, 2010

Alasan Sesungguhnya Mengapa Mereka Berada Di Afghanistan

Eramuslim.com, Rabu 3 Februari 2010

Afghanistan tak pernah berhenti dirundung penjajahan dalam beberapa dekade ini. Setelah Russia menyingkir, kini Amerika dan tentara sekutu NATO menduduki negeri mullah itu. Ada apakah sebabnya?

Menurut laporan AFP, Afghanistan adalah negara yang mempunyai cadangan mineral paling kaya, yang menawarkan harapan bagi sebuah negara yang tenggelam dalam kemiskinan setelah puluhan tahun menghabiskan dana perang. Endapan tembaga, besi, emas, minyak-gas, dan batubara, serta permata, sebagian besar belum dimanfaatkan dan masih sedang dipetakan. Hal itu dibeberkan oleh Mohammad Adel Ibrahim, menteri pertambangan Afghanistan.

Namun ironisnya, Afghanistan menjadi salah satu negeri paling miskin di dunia karena bara api yang selalu disulut oleh pihak asing. Asal tahu saja, eksploitasi besar-besaran tembaga—salah satu yang terbesar di dunia—sekitar 30 kilometer (20 mil) timur Kabul, terus terjadi. Sewa 30 tahun tambang tembaga Aynak itu pada bulan November tahun silam ditawarkan kepada China Metallurgical Group Corporation dan kontraknya sedang diselesaikan.

"Diperkirakan bahwa deposit Aynak memiliki lebih dari 11 juta ton (tembaga)," katanya, mengutip survei tahun 1960-an oleh Uni Soviet dan sebuah studi baru oleh United States Geological Survey (USGS). "Dengan harga sekarang, itu seharga 88-miliar dolar deposito!"

Proyek kolosal yang mewakili Aynak ini hanya sebagian kecil dari sumber daya alam Afghanistan. Saat ini USGS sedang melakukan survei nasional kekayaan mineral dan minyak dan gas deposito yang diharapkan akan selesai dalam satu tahun. USGS memperkirakan ada sekitar 700 miliar meter kubik gas dan 300 juta ton minyak di beberapa provinsi utara.

Sebuah survei dari Russia memperkirakan ada lebih dari dua milyar ton cadangan besi di Afghanistan. Salah satu yang paling dikenal adalah deposito besi di Haji Gak, 90 kilometer sebelah barat Kabul.

Tapi untuk semua itu, menurut Adel, pemerintah Afghanistan sudah berencana menawarkan lebih banyak tender proyek-proyek untuk sektor swasta tahun depan. Sudah ada beberapa pertambangan yang berlangsung seperti pertambangan zamrud Panjshir di daerah timur laut Kabul, dimana dinamit digunakan untuk meledakkan tanah agar permata keluar.

"Dalam waktu lima tahun mendatang, Afghanistan tidak akan lagi memerlukan bantuan dunia," kata Adel. "Dalam 10 tahun, Afghanistan akan menjadi negara terkaya di kawasan." Tapi mungkin sang menteri pertambangan lupa, jika semua kekayaan negara yang dikelola pihak asing tak akan pernah dapat memajukan negara manapun di dunia ini. Satu lagi, Adel Baz, negara Anda juga penuh dengan para koruptor! (sa/afp)

Wednesday, January 27, 2010

Efek Domino

Judul tersebut sebagai dua kata yang sering dipakai orang yang kurang lebih diartikan sebagai sebuah kejadian yang mengakibatkan pada kejadian yang lain, kejadian positif atau negatif tidak menjadi soal, yang penting sebuah kejadian yang kemudian menimbulkan kejadian turunan lainnya.

Demikian kejadian yang saya alami beberapa hari lalu. Kamis 21 Januari 2009, sore menjelang maghrib handphone saya berdering, saya angkat, terdengar suara seorang bapak menyapaku, beliau mengungkapkan bahwa di tempat kerja beliau ada problem scale pada pipe line, seraya mananyakan apakah saya bisa memberikan solusinya, saya terlebih dahulu menanyakan dari mana beliau mengetahui saya atau perusahaan tempat saya bekerja, beliau bilang mengetahuinya dari internet, kemudian saya menayakan lokasi perusahaan beliau bekerja, beliau mengatakan di Purwakarta, Jawa Barat, kemudian saya mengiyakan sembari menyampaikan kepada beliau bahwa saya harus melakukan survey terlebih dahulu, sebelum memberikan jawaban bisa atau tidaknya, beliau setuju, beliau minta besok pagi (Jum’at) jam 08.00, saya menyatakan bahwa tidak bisa kalau jam 8 pagi sudah sampai tempat beliau, akhirnya kami sepakati saya sampai di perusahaan beliau bekerja pukul Jumat pagi pukul 10.

Jumat, 22 Januari 2010, subuh saya sudah bangun, usai sholat berjamaah, saya menyempatkan diri membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an, kemudian saya memutar musik dari fasilitas mp3 di laptop kesayangan, sengaja saya putar dengan suara keras, meski dengan kapasitas speaker yang pas-pasan, disamping saya sedang menyukai lagu My Facebook nya GIGI, juga dengan harapan membangunkan teman-teman yang tinggal serumah denganku. Seperti biasa, saya ‘menggelar konser mini’ dari kamar saya, menghadirkan musisi dan vokalis kawakan, disamping ada GIGI, ada juga Gun and Roses ada juga KLA Project, tak ketinggalan Siti Nurhaliza dan juga Nidji. Pokoknya ada konser nan meriah dari konser saya.

Pukul 07.35 saya mandi dan kemudian bersiap berangkat ke kantor. Pukul 08.00 saya benar-benar sudah siap, rupanya ketika sedang berkemas, saya lupa memindahkan kunci motor dari tempat biasa saya menaruh ke tempat lain, bukannya memasukkan ke kantong celana atau saku, hal tersebut menjadi muasal problem saya hari itu, ketika hendak mengeluarkan motor, kunci tidak berada di tempatnya, saya cari ke berbagai tempat, hasilnya nihil, akhirnya saya putuskan untuk untuk berangkat tanpa naik motor, alternatifnya tentu Busyway, dari halte Utan Kayu ke arah Halte Matraman, dari sana saya mengambil jurusan yang ke Ancol langsung, artinya zonder transit di Halte Senen, kemudian turun di Halte Golden Gunung Sahari, dari sana saya jalan kaki ke kantor, agak jauh memang, tapi lumayan juga, sebab saya niatkan sekalian olahraga. Akhirnya keputusan tersebut saya ambil. Ternyata saya belum sampai Halte Matraman, si Bapak sudah menelpon saya, beliau memastikan kedatangan saya, saya mengiyakan bahwa saya jadi ke perusahaan beliau bekerja di Purwakarta, jam 10.00 sesuai rencana. Kemudian saya menelpon Kodri, Technical Chemist di kantor kami, ia bilang sedang periksa ke dokter, untuk melepaskan jahitan akibat terpeleset sewaktu ada pengerjaan descaling di Cilegon, dia bilang bisa datang ke kantor agak siang, karna hari itu hari Jum’at, maka kuartikan ba’da Jum’at.

Singkat kisah, alhamdulillah saya bisa sampai kantor, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 09.20. artinya tinggal 40 menit lagi jam 10.00. Lebih apesnya lagi, di kantor sudah tidak ada teman, terutama Chemist, Bani dan Kuncoro sudah tak nampak batang hidungnya, yang tersisa tinggal para staf yang jenis kelaminnya perempuan, yang paling dekat dengan kami si Meri nampak masih asyik dengan lipatan muka dan cemberutnya, yang ada tinggal Pak Junaidi, sang Brand Sales Manager di kantor kami, beliau sedang asyik memberi training pada kandidat Sales Engineer. Meski Pak Jun menyampaikan bahwa mobil beliau boleh saya bawa, namun sia-sia saja, sebab saya tidak (atau lebih tepatnya belum) bisa menyetir. Pak Wawan yang entengan dan mau diajak kemanapun hari itu kebetulan sedang tidak bisa datang ke kantor, mestinya saya bisa mengajaknya untuk menyetir mobil tersebut. Akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 09.45 saya mengirim SMS ke nomor handphone si bapak yang kemarin sore menelpon saya, saya sampaikan bahwa “Mohon maaf Pak, hari ini saya tidak bisa datang tepat waktu jam 10.00 di kantor Bapak, sebab Techical Chemist kami mendadak harus periksa ke dokter, kami bisa sampai usai Jumat nanti” beliau menjawa “Ok, saya tunggu”. Menjelang jam 11.00 saya keluar kantor, minta diantar Antoni untuk ke Masjid yang ada di komplek Kemayoran. Sesampai di masjid saya wudhu kemudian masuk masjid, membuka dan mengaktifkan laptop, membaca beberapa artikel hasil unduhan down load yang saya simpan, sampai menjelang waktu sholat Jumat datang, saya menyempatkan diri berkirim SMS ke Kodri, memberitahukan ke dia, kalau saya menunggunya di Masjid Kemayoran, dia mengiyakan, dan habis Jumat katanya akan segera meluncur, kemudian mengambil air wudhu lagi, usai itu mencari posisi yang enak untuk menempatkan tas saya, sebab bila lengah, tangan iseng nan jahil siap membawa kabur tas saya. Ketika mengambil wudhu yang kedua tersebut, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya, terasa diaduk-aduk, dan kadang bunyi tidak karuan, meski tidak sakit namun sangat tidak nyaman, Sepanjang saya mendengarkan khutbah Jumat hari itu dan ditambah sholat dua rekaat, benar-benar perut terasa tidak nyaman. Akhirnya usai jumat saya minum the manis hangat di depan masjid tersebut, dan ketika toilet sudah saya rasa sepi, saya menerima ajakan perut untuk memasuki toilet, ternyata saya terkena diare, usai keluar dari toilet saya wudhu, kemudian rebahan, sembari memutar otak, mengingat-ingat apa yang sudah saya masukkan ke dalam perut saya, sehingga mengakibatkan kejadian tersebut. Kesimpulan saya, saya sudah memakan roti pada Kamis malam sebelumnya, roti yang saya beli pada Senin pagi dan saya taruh di kulkas, kemudian saya makan pada Kamis malam tersebut, kemungkinan kedua, penyebab ketidakberesan perut (baca; diare) tersebut, adalah pecel lele yang saya makan di food court Atrium Senen pada Kamis siang, usai menonton film Jacky Chan, Spy Next Door. Saya berpikir demikian sebab waktu itu saya memesan lele dengan gorengan yang tidak kering, dan ketika saya makan, ternyata masih ada tersisa darah segar yang tertinggal di dalam daging lele tersebut. Tapi kemungkinan kedua ini kecil sekali, demikian analisa saya.

Ketika waktu menunjukkan pukul 13.05 saya menelpon Kodri, memastikan kedatangannya, dia bilang bahwa dia sudah di jalan, tanpa menyebutkan di jalan mana, agak terhibur, meski tetap saja tidak yakin bila ia benar-benar akan segera datang ke tempat saya menunggunya. Pukul 13.35 si bapak menelpon saya, menanyakan sudah sampai mana saya, saya menjawab dengan balik nanya, “Sore ini Bapak pulang jam berapa? Sebab saya mungkin akan bisa sampai tempat Bapak agak sore, rekan saya Chemist baru keluar dari dokter”, nampaknya beliau tidak berkenan dengan jawaban saya tersebut, dengan nada agak marah beliau bilang ; “Wah…kacau! Katanya mau datang habis Jum’at, ini perusahaan Jepang Pak” kemudian saya memohon maaf, dan menegaskan bahwa keterlambatan saya ini benar-benar diluar dugaan apalagi niat saya, nampaknya beliau tidak berkenan memahami kondisi yang saya sampaikan, akhirnya beliau memutuskan agar saya tidak usah datang, saya Tanya tidak usah datang hari ini atau selamanya, beliau menjawab “selamanya”, dengan nada berat saya menyampaikan terima kasih, entah terima kasih untuk apa. Setelah kejadian tersebut saya putuskan untuk pulang, dengan taksi meluncur dari Kemayoran ke Utan Kayu.

Demikian, efek domino negatif yang saya alami, berawal dari hal yang semula sepele, lupa memindahkan kunci dari tempatnya kemudian menjadikan saya harus berangkat kerja dengan naik Bus Way yang memang tetap lamban dan berdesakan, tidak bisa secepat naik motor, kemudian berakibat sampai di kantor kesiangan, yang mengakibatkan sudah tidak ada teman yang saya butuhkan yang masih stay di kantor, kemudian akhirnya kehilangan calon costumer. Semoga kejadian ini tidak pernah terulang.

Tuesday, December 29, 2009

Hilangya Ruh “Laskar Pelangi”, Andrea Hirata Harus Bertanggung Jawab

Jarang sekali, bila tak boleh dibilang tidak ada sama sekali, ada sebuah karya sastra di negri ini yang mendapat apresisasi sedemikian luas dan besar dari masyarakat. Bila ada karya sastra yang dinilai fenomenal seringkali tak lebih hanya merupakan sample bagi pencapaian periodisasi dalam karya sastra negeri ini, semisal “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Sengsara Membawa Nikmat” dan beberapa karya sastra masa lalu, atau bila tidak, karya sastra tersebut hanya diapresiasi oleh kalangan dan komunitas tertentu, semisal novel berjudul “Saman”, atau ada lagi “Supernova” yang meskipun media memberitakan dengan gegap-gempita, namun senyatanya masyarakat yang mengapresiasi karya-karya tersebut sangat terbatas pada beberapa kalangan saja.
Menjadi sebuah pertanyaan ketika tetralogi “Laskar Pelangi” yang ditulis oleh Andrea Hirata, mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat, bukan saja dari segi kuantitas masyarakat yang mengapresinya, namun juga karya sastra tersebut mampu menembus lintas batas strata sosial, pendidikan dan ‘kelas’ para penikmatnya. Saya pikir, capaian yang didapat oleh “Laskar Pelangi” disebabkan antara lain; ia bukan saja punya energi melimpah bagi para pembacanya, namun sekaligus mampu memberikan stimulus psikologis yang teramat mengesankan, berupa alur cerita yang sangat variatif, pemilihan kata yang sangat cermat, kontens cerita yang orsinil dan dengan pemaparan yang lugas, maka tidak mengherankan bila karya tersebut mampu mengaduk-aduk emosi penikmatnya. “Laskar Pelangi” memberikan pelajaran tanpa harus menggurui, tanpa melawak ia bisa menjadi sangat lucu, dan zonder merintih ia mampu membuat pembacanya larut dalam kesedihan, dan sangat jauh dari keluh kesah serta caci maki. Yang teramat memukau dari karya sastra tersebut, ia merupakan kisah nyata dari para pelakunya, lebih khusus lagi penulisnya.
Penikmat karya tersebut benar-benar dibuat haru-biru oleh apa yang disajikan dalam novel tetralogi “Laskar Pelangi”. Tak pelak dari segi komersial, penjualan buku tersebut merupakan salah satu Best Seller dari sekian karya sastra yang telah ada. Yang lebih membuat miris, disinyalir novel bajakan yang beredar lebih banyak dari novel resminya
Ketika “Laskar Pelangi” hendak difilmkan, sebagian penikmatnya merasa sangat tidak rela, sebab mereka yakin adaptasi novel ke dalam film tersebut pasti akan jauh dari greget yang ada dalam novelnya, baik dari cara mengkisahkannya, alur ceritanya, terlebih lagi dari sisi kemampuan film memvisualisasikan emosi tokoh-tokoh yang ada dalam “Laskar Pelangi”. Belum lagi kalau melihat kapasitas para sineas kita yang teramat memprihatinkan, insan film yang kebanyakan dari mereka masih gemar membuat film-film kacangan dan tak punya nilai artistik sama sekali. Saya sendiri termasuk penikmat “Laskar Pelangi” yang mencoba ‘berbesar hati’ untuk mau menerima kenyataan novel tersebut diadaptasi ke dalam bentuk film.
Begitu film tersebut dilaunching ke masyarakat, sambutannya memang luar biasa, hampir berbanding lurus dengan apresiasi yang diberikan pada novelnya, film “Laskar Pelangi” mampu membuat masyarakat di negeri ini, dari berbagai strata sosial, latar pendidikan, profesi dan juga agama serta budaya, berduyun-duyun mendatangi bioskop. Saya sendiri sampai lima kali mendatangi bioskop baru bisa ‘kebagian jatah’ tiketnya. Sebuah fenomena yang luar biasa bagi industri perfilman Indonesia. Kabar yang beredar, film tersebut mampu membuat 3 juta orang lebih menontonnya, sebuah rekor baru film Indonesia. Dari realitas tersebut memang memunculkan impact yang bisa dijadikan tolok ukur dan pemilah bagi pembaca novelnya, bagi kalangan pembaca novel yang teratamat fanatik dengan “Laskar Pelangi”, yaitu golongan yang sangat tidak rela “Laskar Pelangi” diadaptasikan ke dalam sebuah film, bahkan dalam beberapa interview di televisi Anrdrea Hirata mengaku ‘dimarahi’ oleh kelompok fanantik ini, film tersebut mampu meneguhkan bahwa keyakinan mereka benar adanya, sebuah film sebagus apapun tetap tidak akan mampu memvisualisasikan secara utuh dari sebuah karya sastra berupa novel, disisi lain, bagi penikmat “Laskar Pelangi” yang fanatik namun moderat, kehadiran film dengan judul yang sama, menjadi peneguh kembali adanya keyakinan mereka bahwa ditampilkan dengan karya seni berbentuk apapun, “Laskar Pelangi” tetaplah sebuah karya yang teramat memukau.
Ketika menyaksikan filmnya, sayapun ikut larut dalam alur cerita serta visualisasi yang menurut saya, sebagai salah seorang penikmat novelnya, cukup bagus, dalam artian film tersebut mampu merepresentasikan sebuah kehebatan yang ada dalam bentuk novelnya. Saya merasa tidak sia-sia sudah ‘berbesar hati’ ketika mengetahui dan menerima kenyataan bahwa “Laskar Pelangi” diadaptasikan ke layer lebar.
Dari segi para pemerannya, kita disajikan sebuah peran yang sangat memukau, meski sebagian besar tokoh utamanya adalah anak-anak yang belum pernah sekalipun terlibat dalam seni peran khususnya, dan pembuatan film pada umumnya. Ajaibnya justru tampilnya muka-muka baru tersebut, memberikan sihir tersendiri buat film tersebut, para penonton disajikan dengan penampilan sosok-sosok yang benar-benar mampu merepresentasikan para punggawa “Laskar Pelangi”, penonton seakan-akan dibawa kealam dimana kisah “Laskar Pelangi” lahir dan dikagumi masyarakat, setting lokasinya pun juga sangat representatif sebagiamana yang dikisahkan dalam novelnya, demikian dengan alur ceritanya, meski ia hanya menyajikan sebagian dari sekian kisah yang ada dalam novelnya, namun cukup menjadi wakil “Laskar Pelangi” di layar lebar, pendek kata, film “Laskar Pelangi” benar-benar sebuah karya yang teramat pantas untuk diapresiasi sebagaimana novelnya.
Saat film tersebut usai masa putarnya, kita menyaksikan ada niatan dari produser dan sang penulis untuk membuat film lanjutan sebagaimana novelnya, bahkan dengan sumringah Andrea Hirata mengatakan “tak lama lagi Indonesia akan memiliki sequel film yang banyak digemari masyarakat”. Kita menyambut gembira adanya niatan tersebut, meski tak menutup mata adanya pesimisme di sebagian kalangan. Pesimisme akan kualitas film tersebut, mereka khawatir film lanjutan tidak akan sebagus sequel pertamanya.
Beberapa bulan kemudian, film tersebut diputar di bioskop, tepatnya mulai 17 Desember 2009, meski sebelumnya pernah diputar pada awal Desember 2009 sebagai film pembuka dalam ajang Jakarta International Film Festival (Jiffest). Dengan judul yang sama dengan novelnya yaitu “Sang Pemimpi”.
Sebagai penggemar setia “Laskar Pelangi”, saya pun tak mau ketinggalan menyakiskan film “Sang Pemimpi”, sengaja saya menyaksikan sudah beberapa hari masa putar, sebab saya tidak mau datang ke bioskop namun tak kebagian tiket.
Begitu menyaksikan film tersebut, apa yang dikhawatirkan oleh sebagian kalangan memang benar terjadi, kualitas film “Sang Pemimpi” memang jauh berada dibawah kualitas pendahulunya (“Laskar Pelangi”). Film tersebut benar-benar jauh panggang dari api, sedikitpun ia nyaris tak mampu merepresentasikan kehebatan “Laskar Pelangi”, film yang seakan-akan dibuat hanya sekedar memenuhi target bahwa harus dibuat sebanyak 4 judul, sebagaimana novelnya. Betapa sang pembuat film tidak mampu memindahkan emosi dan energi yang dalam dalam novel “Sang Pemimpi”. Terlebih lagi bila kita melihat bagaimana para pemeran memainkan tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut, mayoritas dari mereka sangat kaku dan tidak pas, kita disajikan bagaimana pemeran Ikal semasa SMA maupun ketika ia sudah lulus dari SMA, sangat kering dan monoton, ia cuma menjadi tokoh yang bisa cengar-cengir dan terlihat bloon, kontras sekali dengan tokoh Ikal yang ada dalam novelnya, begitu juga Arai ketika sudah diwisuda dan mengikuti seleksi beasiswa di Jakarta, ia menjadi sosok yang teramat kaku dan jauh dari gambaran Ikal yang sebenarnya. Kita hanya bisa menyaksikan tokoh-tokoh “Sang Pemimpi” yang sejati hanya pada sosok Jimbron yang bisa diperankan dengan sangat baik, demikian pula Arai semasa SMA bisa mendekati sosok Arai yang ada dalam novelnya, demikian juga dengan Pak Julian Balia, yang bisa diperankan cukup baik. Selebihnya adalah sosok-sosok yang memperankan tokoh-tokoh dengan kaku dan menjauhkan film tersebut dengan novelnya. Bahkan pembuat film terasa berlebihan ketika menampilkan Taikong Hamim yang mendelik ketika meng-imami sholat berjamaah manakala ia mendengar salah satu jamaah kecilnya (Arai) yang mengamini fatihah dengan suara yang melengking panjang, berlebihan karena memang tidak ada episode tersebut dalam novelnya, juga tidak pernah seorang imam sholat langsung bereaksi ketika ada salah seorang jamaahnya yang ‘bandel’. Pun dengan tampilan ibunya Ikal, yang nampak kusut, tua dan kelam, sangat tidak mampu merepresentasikan ibundanya Ikal yang ada dalam novel. Berlebihan juga ketika menampilkan Zakiah Nurmala Binti Mahmud yang melambaikan tangan ketika Arai dan Ikal naik kapal hendak menuju Jakarta, sebab dalam novelnya, lakon itu memang tidak pernah ada. Zakiah Nurmala benar-benar menerima Arai setelah Arai menyelesaikan pendidikan S2 nya. Pendek kata film “Sang Pemimpi” justru menghilangkan roh “Laskar Pelangi” yang demikian hebat dan berenergi.
Musabab sampai terjadi sebagaimana tersebut diatas, dintaranya; kekeliruan pembuat film dalam memilih figur yang memerankan beberapa tokoh dalam film tersebut, semisal sosok Ikal, nampak tidak bisa benar-benar menjiwai apa yang harus dipernakannya, sosok Ikal sejati hanya bisa kita saksikan dalam diri Ikal ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dari awal hingga akhir, film “Sang Pemimpi” benar-benar tidak mampu mempertemukan penonton dengan Ikal yang sebenarnya, Ikal yang begitu mempesona seperti ketika ia masih SD (“Laskar Pelangi”). Demikian juga dengan sosok Arai semasa ia lulus kuliah, pemilihan figur yang sudah dikenal masyarakat untuk memerankan tokoh ini justru serasa kurang pas, baik dari segi tampilan fisik yang jelas sangat berbeda dengan Arai semasa SMA, maupun cara ia memerankan sosok tersebut terasa hambar dan tidak punya jiwa, belum lagi sebagian masyarakat kita yang sudah mengenal dengan baik sang pemeran Arai (dewasa) justru membuat peran dan fungsinya terasa dangkal dan hambar.
Andrea Hirata Harus Bertanggung Jawab
Ibarat proyek film “Laskar Pelangi” adalah sebuah tim sepakbola, maka Andrea Hirata adalah ownernya, ia bukan saja berkewajiban membuat tim tersebut memenangi setiap pertandingan, namun juga harus membuat para supporternya tehibur dan puas dengan penampilannya, dengan demikian ia harus memilih manajer tim dan pelatih yang handal dan serius serta berpengalaman meracik tim tersebut.
Bila analogi di atas diaplikasikan pada proyek film “Laskar Pelangi”, film “Sang Pemimpi” ibarat tim sepakbola sedang mendekati jurang kehancuran, perjalanan kompetisi sudah melalui setengahnya, namun perjalan kedepan justru episode-episode yang tak kalah menantang, Andrea harus segera membuat evaluasi secara obyektif dan menyeluruh, agar kelanjutan proyek “Laskar Pelangi” tetap terjaga dan tidak kekurangan greget. Andrea harus berbesar hati untuk mengakui bahwa kinerja yang ditujukkan oleh penggarap “Sang Pemimpi” sudah mulai kedodoran. Bila dipandang perlu, Andrea harus beralih pada sineas lain yang memang sudah cukup piawi dan berpengalaman dalam penggarapan film yang berkualitas. Andrea juga harus tegas untuk secepatnya mencari sosok pengganti yang bisa memerankan Arai dan Ikal dalam babak selanjutnya, sehingga penonton ketika menyakiskan film tersebut tidak lagi dijauhkan dari novel yang telah meraka baca. Hal tersebut sangat penting mengingat tanggung jawab dia untuk tidak mendistorsi kehebatan tetralogi “Laskar Pelangi” ketika ditampilkan di layer lebar, sehingga ruh “Laskar Pelangi” tetap terpelihara sehebat yang ada dalam novelnya. Yang tak kalah pentingnya adalah ‘kemarahan’ penggemar fanatik “Laskar Pelangi” tidak kian menjadi-jadi, manakala film-film nya berkualitas buruk.
Kita selaku penikmat karyanya, menanti apakah ia mau melakukannya? Bila tidak, kita hanya akan menyakiskan segunung kekecewaan dan kemarahan pengagum “Laskar Pelangi”.
Sebaliknya, bila ia mampu bertanggung jawab, niscaya kita menjadi saksi sejarah betapa karya sastra kita juga mampu ditampilkan di layar lebar dengan sequel yang tak kalah memumaku dengan produksi Holywood, kita juga akan bisa melihat bagaimana girangnya Arai ketika tahu bahwa Zakiah Nurmala Binti Mahmud mau menerimanya.
Wallohu’alam bisshowab

Monday, December 14, 2009

Penerbit dan Problematikanya , Catatan Road Show ke Beberapa Penerbit di Jakarta

Dalam rangka menjajaki dan menawarkan kerjasama penjualan buku, saya mendatangi beberpa penerbit yang ada di Jakarta, baik merupakan kantor pusat maupun yang sekedar cabang, dari beberapa penerbit yang saya datangi saya bisa memberikan catatan sebagai berikut;

- Pada umumnya penerbit menyambut dengan senang hati atas tawaran kerja sama yang saya sampaikan

- Margin yang ditawarkan oleh penerbit berkisar antara 25-30%, dan rata-rata masih bisa naik lagi jika pembelian dalam jumlah banyak, dengan negosiasi, namun ada juga yang langsung mematok discount 35%

- Beberapa bersedia mengirim ke saya, dengan biaya tertentu, tapi mayoritas tidak mau mengirim langsung ke costumer saya, kecuali Grasindo

- Semakin besar penerbit, maka sambutan dan layanan yang diberikan semakin berkualitas

Selain dari catatan di atas, hal menarik lain yang saya dapatkan ketika bertemu dengan penerbit diantaranya curhat yang mereka sampaikan kepada saya,

- Penerbit yang sudah tua dan tidak mau me’remaja’kan sistem maupun awaknya cenderung mendekati jurang kebangkrutan

- Ada penerbit yang sudah eksis sejak tahun 1960-an mengeluhkan maraknya persaingan yang tidak sehat di bisnis perbukuan Indonesia, diantara bentuk (persaingan tidak sehat) yang dimaksud adalah; menggejalanya tren penjiplakan buku yang laku di pasaran, maksudnya adalah banyak penerbit lain yang menerbitkan buku yang diketahui laku di pasaran, mereka menerbitkan dengan ‘hanya’ mengubah tampilan ataupun cover buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit lain, buku jiplakan tersebut umumnya adalah buku terjemahan, tak jarang penerbit dengan metode penjiplakan tersebut tampil dengan perwajahan yang lebih ‘fresh’ dibandingkan dengan penerbit aslinya. Bahkan yang lebih ironis model penjiplakan tersebut merambah sampai ke beberapa negara tetangga, yang nota bene masih serumpun dalam penggunaan bahasa, yaitu bahasa Melayu.

- Salah seorang owner menyampaikan keluhan dengan munculnya konglomerasi baru di bisnis perbukuan atau penerbitan. Ia mengindikasikan bahwa penerbit tersebut sudah menguasai semua lini dan divisi dalam dunia perbukuan, mereka membuat Salah satu raksasa penerbitan di Jakarta

Thursday, December 10, 2009

Curhat Prita Mulyasari

Inilah tulisan curahan hati seorang Prita Mulyasari mengenai apa yang dialaminya di Rumah Sakit Omni International. Tulisan ini membuat Rumah Sakit tersebut meradang, kemudian menuntut Ibu Prita Mulyasari ke pengadilan, dengan tuntutan Perdata maupun pidana. Selengkapnya dapat Anda baca sebagai berikut

RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF

Prita Mulyasari – suaraPembaca

Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya.
Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli
kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya
39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya
adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000.
Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya
wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample
darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu
thrombosit 27.000. dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS
ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan
saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif
demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau
izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan
pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab
semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?).
Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat
supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan
tanpa izin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama
dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat
khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi
saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya
saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter
profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap
saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien
harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan
suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan
suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang
sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya
makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya
juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya
mengatakan akan menunggu dr H saja.
Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut
saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya
tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap
menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan
kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit
sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang
sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang
namun hanya berkata menunggu dr H saja.
Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan
saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta
dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami.
Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan
kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya,
suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan
serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah
terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan
mata kiri. dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut
malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan
kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat
mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini
dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan
saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan
yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga
mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya
tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain.
Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya
dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar)
saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi
tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan
adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah
saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan
hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk
bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh
Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam
tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya
benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang
tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti
mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain
tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas
nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service
Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian
yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat
pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000
bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan
kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain
saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain
dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000
sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab,
Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan
dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat
tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular.
Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan
namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa
laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang
telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah
diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami
sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru
ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga
terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000
tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan
meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.
Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang
belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan
keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai
jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke
rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah
dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.
Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya
tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan
mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya
dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana
kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati
dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS
ini cantum.
Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat
tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke
resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit
hati kami.
Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami
dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan
27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang
mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke
RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya
ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif
saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.
Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya
adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya
tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas
dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini
dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya
semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari
keserakahan ini.
Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni
(dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti
permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan
dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya
yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya
tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini
membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh
sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan
sungguh mengecewakan.
Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni
supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak,
orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis.
Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah
karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G,
dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia
hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di
RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati
dengan perawatan medis dari dokter ini.
Salam,
Prita Mulyasar
Alam Sutera