Thursday, April 30, 2009

Gerakan New Age

Tulisan ini merupakan salah satu makalah yang disajikan pada Urban Sufism Days 2009, yang digelar oleh Fakultas Falsafah dan Agama, Universitas Paramadina Jakarta, pada 22 Januari 2009,
bertempat di Kampus Universitas Paramadina, Jl. Gatot Subroto. Senagaja saya tampilkan disini dengan tujuan untuk berbagi kepada Anda, pengunjung Blog saya.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat telah membuat manusia yang hidup di berbagai tempat dunia ini dapat saling berhubungan secara regular. Sebagai akibatnya, dunia telah menjadi satu jaingan hubungan social yang sangat luas. Dalam keadaan seperti ini, ide-ide dan budaya-budaya dengan deras mengalir, meskipun arahnya masih sangat tidak berimbang. Arus informasi yang mengandung ide-ide dan budaya-budaya lebih banyak mengalir. Dari Utara ke Selatan. Disamping itu, berkat perkembangan transportasi yang semkin maju, manusia dan barang-barang juga ikut mengalir dalam jumlah dan frekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Salah satu dari ide dan budaya-budaya tersebut adalah New Age. Berkat kemudahan dalam memperoleh dan membaca literature mengenai paham ini, maka ide tentang New Age atau gerakan New Age yang lahir di Barat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, hal ini bisa dilihat, misalnya, dari pembahasan mengenai New Age, yang merupakan ‘topik utama’ majalah Panjimas, terbitan September 2003.
Tulisan ini merupakan penelusuran awal mengenai gerakan New Age. Di dalam tulisan ini penulis akan menguraikan sejarah munculnya gerakan New Age, mendiskripsikan pengertian gerakan New Age dan New Age itu sendiri, dan memaparkan ide-ide dan kepercayaan New Age. Di bagian akhira akan dibahas secara singkat mengenai gerakan New Age di Indonesia.
Sejarah Lahirnya Gerakan New Age
Gerakan atau jaringan New Age pertama kali muncul di Inggris pada akhir 1950-an (Melton, 1998: 360) atau tahun 1960-an (Melton, 1996: 148; lihat juga Honeggraf, 2001:16). Di Amerika Serikat, gerakan New Age berawal tahun 1971. Ini ditandai, antara lain, dengan berdirinya ashram-asrham (padepokan-padepokan) dan pusat-pusat pelatihan yang didirikan oleh guru-guru dari Timur. Meskipun demikian, baru pada tahun 1987 New Age dikenal secara luas oleh masyarakat Amerika. Hal ini adalah berkat disiarkannya di televisi nasional versi film dari buku yang ditulis oleh seorang new ager, artis Shirley MaLaine, yang berjudul Out on a limb (1983). Di dalam buku tersebut ia menceritakan tentang pencariannya terhadap jawaban-jawaban spiritual melalui channeling (praktek berkomunikasi dengan makhluk dar luar dunia ini melalui perantara) dan pengalaman-pengalaman UFO (Unidentified Flying Object, atau Benda yang Tidak Dikenal/Piring Terbang) di pegunungan Andes, Peru. Kedua macam aktivitas tersebut termasuk kedalam kelompok New Age.
Gerakan New Age bukanlah gerakan yang betul-betul baru, yang tidak mempunyai hubungan dengan gerakan-gerakan spiritual sebelumnya. Akar-akar sejarah gerakan ini dapat ditelusuri di dalam gerakan-gerakan keagamaan alternative yang muncul pada abad ke 19. Misalnya, Spiritualisme , Teosofi , dan berbagai macam gerakan-gerakan penyembuhan alternative (Bednarowski, 1991:210, lihat juga Melton, 1986: 108-109, dan Spangler, 1993:85). Hampir sejalan dengan ini, Hengraaf (1998:95-96) mengatakan bahwa gerakan New Age berakar pada UFO cults yang berkembang pada tahun 1950-an, dan masih bertahan sampai sekarang. Pandangan hidup yang bersifat metafisik-rahasia dari UFO-cults ini mengambil inspirasi dari berbagai macam sumber, khususnya sistem Teosofi Alice A. Bailey.
Apabila ditinjau dari sudut lain, kata Melton (1998;360), New Age dapat dianggap sebagia sebuah gerakan pengganti terhadap budaya-tandingan (counterculture) yang muncul pada tahun 1960-an. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengamat New Age, banyak new agers adalah baby-boomers yang mungkin pada periode tersebut berpartisipasi dalam budaya-tandingan berangsur hilang pada awal 1970-an, banyak mantan “hippies” beralih ke pencarian spiritual di luar tradisi Judeo-Kristen.
Henegraaff (1998:97-103) membagi New Age ke dalam dua periode: New Age sensu stricto, yaitu New Age dalam pengertian terbatas, dan New Age sensu lato atau New Age dalam pengertian yang lebih luas. Dalam periode pertama, New Age sangat diwarnai oleh ajaran-ajaran Teosofi dan Anhtroposofi . Hal ini disebabkan gerakan tersebut bermula dan berakar di Inggris dimana kedua aliran itu dianut oleh banyak orang. Pada tahap ini new agers sangat mengharapkan kedatangan masa Aquarius. Hal ini berdasarkan pada interpretasi astrologis terhadap sejarah. Menurut interpretasi ini, setiap dua ribu tahun umat manusia beralih ke satu era baru dimana peradaban sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat dan tanda-tanda astrologis tertentu yang berkuasa pada masa itu. Selama 2000 tahun yang lalu manusia berada dibawah tanda Pisces, dan sekarang memasuki masa Aquarius. Oleh karena itu, New Age senso strico mempunyai visi millenarian. Sebagai akibatnya, perhatian mereka terfokus kepada kedatangan era baru dalam waktu dekat.
New Age sensu lato atau dalam pengertian yang luas muncul ketika menjelang tahun 1970-an semakin banyak orang menyadari adanya persamaan yang besar diantara ide-ide dan usaha-usaha “alternatif” yang sangat beraneka ragam. Orang-orang ini kemudian menganggapnya sebagai bagian-bagian dari suatu gerakan yang terpadu. New Age sensu stricto yang bertahan hidup pada tahun 1970an dan 1980-an bisa dianggap sebagai bagian dari New Age sensu lato. Pada periode kedua ini harapan akan datangnya masa Aquarius tidak lagi dianggap penting. Dan New Age sensu lato ini lebih bercorak Amerika tinimbang Inggris, dan sangat dipengaruhi oleh budaya-tandingan California. Oleh karena itu, pengaruh-pengaruh tradisi metafisik dan New Tought khas Amerika sangat kelihatan tinimbang Teosofi dan Anthtrosofi. Satu hal yang perlu dicatat ialah bahwa tak satupun dari fenomena yang disebut New Age adalah melulu pengulangan dari fenomena tradisional. Semuanya berkembang. Semuanya berkembang dengan karakteristik masing-masing, sering mengambil arah yang unik dibawah pengaruh pandangan New Age.
Satu hal yang sering dibicarakan dan dianjurkan para penulis buku-buku New Age pada periode kedua ini adalah ‘perubahan paradigma’ (paradigm shift) dalam memandang dan memahami dunia ini. Suatu perubahan pandangan hidup yang utama sebagai sumber dari cita-cita dan nilai-nilai yang akan menuntun budaya dan peradaban umat manusia.
Jaringan New Age
Juru bicara New Age Marilyn Ferguson (1980:23) mengatakan bahwa gerakan New Age adalah “jaringan (network)” yang tidak mempunyai pemimpin, tetapi sedang bekerja dengan kuat untuk menciptakan perubahan yang radikal….” Ferguson menyebut jaringan ini the Aquarian Conspiracy, yang anggotanya terdiri dari berbagai tingkatan penghasilan dan pendidikan, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Mereka inilah yang pada akhirnya akan merubah fondasi masyarakat industri modern. Elliot Miller (1989:33) menyebut beberapa tokoh yang menjadi anggota gerakan New Age. Diantaranya adalah: Alfin Tofler (futurist), E.F. Schumacher (ahli ekonomi), Fritjof Capra (ahli fisika), Richard Alpert alias Baba Ram Das (mantan Proffesor Psikologi di Harvard), dan Mark Satin (pengarang “New Age Politics”). Saat ini Deepark Chopra adalah guru New Age yang paling populer di dunia.
Adapun jaringan (network) itu, menurut Melton (Melton, Clark and Kelly, 1990:216), adalah suatu struktur orang dan organisasi yang sangat longgar, yang dihubungkan satu sama lain oleh satu minat atau kepentingan yang sama. Mereka ini dihubungkan terutama oleh sebuah buku daftar alamat yang berisi nama, alamat, dan nomor telpon. Orang-orang yang tercantum di dalam satu daftar jaringan mungkin, tetapi biasanya tidak, mempunyai ikatan organisasi formal, biasanya hubungan itu berbentuk asosiasi yang sederhana.
Jaringan ini cenderung bersifat desentralisasi dengan kekuasaan dan tanggung jawab distribusi secara luas. Jaringan juga sering tidak mempunyai pimpinan dan kantor pusat. Para anggota jaringan ini independen dan masing-masing mempunyai daerah kekuasaan dan agenda. Meskipun demikian, mereka bekerjasama di dalam satu network karena mereka mempunyai beberapa misi dan nilai yang sama.
Adapun arti dan definisi dari New Age itu sendiri sangat bervariasi, tergantung pada aspek yang ditekankan oleh orang yang mendefinisakannya. Hal ini disebabkan ole hide-ide, ajaran-ajaran dan aktifitas-aktifitas yang masuk kategori New Age sangat banyak dan beranekaragam. Drane (dikutip dalam Greer, 1995:151) mengatakan bahwa ‘unsur-unsur yang sangat bervariasi yang masuk ke dalam adonan New Age akan selalu menjamin bahwa setiap definisi mengenai New Age pasti ditantang oleh orang lain yang mengalami pengalaman berbeda dengan mengenai New Age’.
David Spangler (1993: 80), seorang guru, juru bicara dan sekaligus kritikus New Age, melukiskan New Age sebagai sebuah pasar loak atau pasar malam. Dikedua kesempatan tersebut terdapat banyak sekali stan-stan (booths) yang berwarna-warni dan berbagai macam bentuk. Keduanya adalah tempat bermain dan dan lokasi untuk menemukan hal-hal atau benda-benda yang diperlukan. Menurut Spangler, pasar (loak/malam) New Age juga terdiri dari berbagai macam tenda yang membingungkan. Hal ini disebabkan sangat bervariasinya kelompok-kelompok dan ajaran-ajaran yang dikelompokkan ke dalam New Age.
Mengutip The Seeker’s Guide: A New Age Resources Book (1992) karya new agers William Bloom dan Jhon Button, Spangler (1993: 81), salah seorang dari founding fathers gerakan New Age, menyebut 40 kelompok yang dapat diberi label New Age. Ia menambahkan bahwa jumlah tersebut hanya sebagian dari daftar kelompok New Age yang dicantumkan di dalam buku itu, dan banyak kelompok tidak memakai label New Age. Diantaranya adalah sebagai berikut: Spiritualitas Dewi, Spiritualitas Orang Indian Amerika, Meditasi, Yoga, Kaballah Yahudi, Astrologi, Shamanisme, Herbalisme, Hipotesa Gaia, ESP, Fisika Baru, Biologi Baru, Psikologi Humanistik, Psikologi Transpersonal, Teori Chaos, Ecofeminisme, Neopaganisme, dan Ilmu Sihir, Bisnis Holistik, Pendidikan Holistik, Sumber-sumber Energi Alternatif, Pengalaman di Ambang Kematian, Praktek berkomunikasi dengan makhluk yang hidup di dunia lain dan makhluk halus melalui seorang perantara (Chanelling), dan Masyarakat atau Komune yang dibentuk dengan sengaja dan sukarela (International Community).
Karena banyak dan bervariasinya kelompok yang diberi label New Age, maka tidak mengherankan kalau New Age sukar dipahami, tidak saja oleh orang awam tetapi oleh akademisi sekalipun. Sebagai akibatnya, New Age mempunyai arti berbeda-beda bagi setiap orang. Misalnya Heelas (1996:2) menganggap New Age sebagai ajaran-ajaran dan praktek-praktek eklektif yang berpusat di sekitar self-spirituality. Melton (1986:113) memandang New Age sebagai visi transformative dari satu dunia dan manusia baru. Henegraaff (1996:146) menganggap New Age sebagai agama, dan mendefinisikannya sebagai suatu bentuk esoterisme yang disekulerkan. Bruce (2000:235) juga memandang New Age sebagai satu bentuk agama yang sangat cocok dengan dunia sekuler. Sedangkan Frisk (2001:32) melihat New Age sebagai konsep yang beraneka ragam dari budaya yang bermacam-macam yang difokuskan pada penyembuhan (healing), dan cara-cara yang diambil dari berbagai macam budaya untuk mencapai kondisi sehat.
Menurut Spangler (1993:81), ada satu hal yang menghubungkan semua kelompok yang beraneka ragam itu, yaitu semuanya menolak pandangan hidup yang matrealistik dan paradigma patriakhal dan budaya masyarakat Barat kontemporer. Mereka menawarkan suatu proses transformasi bagi individu atau budaya secara keseluruhan.
David Spangler (1993:80) menjelaskan bahwa New Age bukan agama baru. Spangler mengatakan bahwa New Age tidak mempunyai satu doktrin terpadu yang dapat menjadi acuan new ager. Ia tidak mempunyai seorang pendiri spiritual seperti Budha, Yesus atau yang lainnya. Ia tidak mempunyai satu set latihan spiritual yang utuh, pola umum maupun fokus penyembahan. Ia juga tidak mempunyai satu jalan spiritual yang dirumuskan dengan baik menuju yang sakral. Ada beberapa kelompok cirri-ciri tersebut, tetapi mereka adalah pengecualian.
Spangler (1984:78-81) yang pernah tinggal selama tiga tahun di Findhorn, satu komune New Age di Skotlandia Utara, membagi New Age ke dalam empat level.
Pertama, New Age sebagai label, yang biasanya dipakai di dalam lingkungan komersial. Disini label “New Age” dipakai sebagai alat untuk menjual musik, obat-obatan, kursus-kursus, dan lain-lain.
Kedua, New Age sebagai “glamour”, suatu level yang paling popular dianggap sebagai “new age” dan paling banyak mendapat publisitas. Pada level ini individu dan kelompok hidup dalam fantasi petualangan dan kekuatan, biasanya bersifat millenarian. Cirri utama dari level ini adalah keterikatan terhadap dunia pribadi pemuasan ego, dan sebagai akibatnya (meskipun tidak terlalu nampak) new agers menarik diri dari dunia. Pada level ini New Age dihuni oleh makhluk-makhluk aneh dan eksotik, para master, para ahli, dan makhluk dari angkasa luar. Level ini adalah suatu tempat kekuatan-kekuatan batin dan msiteri-misteri rahasia, konspirasi-konspirasi dan ajaran rahasia.
Ketiga, New Age sebagai imej perubahan, biasanya dimaksudkan sebagai suatu paradigm shift di dalam institusi-institusi dan kesadaran manusia seperti yang diharapkan oleh Marilyn Ferguson. Di dalam konteks ini ide tentang kemunculan kemunculan budaya budaya baru biasanya nampak di dalam istilah-istilah spiritual, dan istilah new ager itu sendiri jarang dipakai
Keempat, New Age sebagai penjelmaan dari yang sakral dan dilukiskan sebagai suatu peristiwa spiritual, lahirnya kesadaran dan pengalaman hidup yang baru.
Ide dan Kepercayaan New Age
Bednarowski (1991; 209) mengatakan bahwa new agers peraya bahwa Tuhan atau the Absolute itu imanen di dalam setiap atom dari alam semesta. Bersumber dari kepercayaan ini new agers percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta ini mempunyai hubungan satu sama lain (interconnectedness). Sejalan dengan ini, Spangler (1993; 103) mengatakan bahwa segala sesuatu yang dianggap Tuhan itu bukanlah satu titik tempat bertemunya segala sesuatu, merupakan ia merupakan lapangan di mana segala sesuatu dirangkul, diterima dan diberi makna dan nilai khusus. Sebagai akibatnya, kata Spangler, Tuhan bisa saja ditemukan di semua tempat dan setiap saat.
Paham ketuhanan yang bercorak panteisme-monisme ini dituntanskan penjabarannya oleh new agers Shirley MacLaine, artis dan orang yang pertama kali mempopulerkan New Age kepada publik Amerika. Ia mengatakan: “Apabila setiap orang diajari satu hukum spiritual yang utama, maka duniamu akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan dan lebih sehat. Dan hukum itu: setiap orang adalah Tuhan. Setiap orang.” (Dikutip di dalam Newport, 1998:x) Atau “All is one. We are all One. All is God. And we are God.” (Hartil, 2001:268). Paham yang menganggap bahwa manusia adalah Tuhan dikemukakan pula oleh Mark Pesce, yang mengaku sebagai tukang sihir yang baik (a good witch), ketika ia mengatakan kepada Zaleski (1197;261) yang mewawancarainya bahwa “ there is no God but man” (“tidak ada Tuhan selain manusia”).
Dengan demikian, New Age tidak membuat perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan-Nya, New Age mengajarkan bahwa di dalam diri manusia terdapat hakekat yang suci. Oleh karena itu, diri manusia pada dasarnya adalah baik. Apabila ia jelek, maka akibat dari pengaruh lingkungan dan keadaan sekitarnya. Dengan demikian, system kepercayaan dan terapi yang ditawarkan oleh New Age bertujuan untuk menghilangkan kumpulan residu dari pengalaman-pengalaman yang tidak baik, dan membebaskan potensi manusia. Dengan kata lain, tujuan dari perjalanan spiritual adalah untuk membebaskan Tuhan dalam diri manusia, dan supaya manusia dapat berhungungan dengan pusatnya yang sejati (Bruce, 2000:227).
Heelas (1996:20) memasukkan usaha ‘pembuangan otoritas ego’ ini kedalam unsur ketiga dari tema-tema besar New Age atau self-spirituality. Dua tema besar lainnya yang disebut oleh Heelas (1996:18-19) adalah bahwa kehidupan manusia, sebagaimana dialamai secara konvensional, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan manusia hidup secara mekanis di dalam system kepercayaan mereka, bukannya hidup di dalam dunia pengalaman yang sesungguhnya. Yang kedua, dan merupakan aspek paling penting dari lingua franca New Age adalah bahwa manusia itu pada hakekatnya bersifat spiritual. “To experience the ‘Self’ it self is to experience ‘God, the Goddness, the Source’…”
Ajaran bahwa segala sesuatu di dunia ini saling terkait satu sama lain, dan bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber erat hubungannya dengan konsep ‘holisme’ New Age. Konsep ‘holisme’ ini dipertentangkan dengan pandangan-pandangan yang non-holistik, yaitu budaya-budaya lama yang hendak diganti oleh New Age. Pandangan-pandangan non-holistik ini terdiri dari dua kategori, yaitu dualisme dan reduksionisme.
Adapun tentang agama, Bednarowski, (1991:210) mengatakan bahwa New Age mengenal hanya satu agama universal. Meskipun dalam kenyataan agama universal ini berwujud dalam berbagai macam bentuk, tetapi pada hakekatnya kepercayaan mistik yang sama (the Truth) mendasari setiap agama. Meskipun demikian, new agers menolak agama formal (organized religion) karena agama semacam ini, menurut mereka,telah mengurung yang sakral dan tidak memberi manusia jalan untuk memasuki pengalaman spiritual selain dari cara-cara yang telah ditentukan oleh institusi tersebut. Di samping itu, agama formal (Kristen) mengajarkan tentang doktrin dosa dan ketidakberdayaan manusia. Doktrin ini meremehkan potensi manusia, padahal manusia itu adalah Tuhan, sebagaimana pernyataan new agers Shirley MacLaine dan Mark Pesce.
Mengenai science, new agers menolak science yang bersifat mekanistik dan matrealistik yang didukung oleh fisika Newtonian. Karena, menurut mereka, jenis science ini tidak memberi tempat bagi kesadaran: ruh atau jiwa, atau segala sesuatu yang bukan materi di alam semesta. Newtonian science juga tidak mengakui realitas sentral dari pengalaman manusia, yaitu aspek-aspek perasaan yang lebih dalam.
Sebagai pengganti fisika Newtonian new agers memakai ‘fisika baru’, yaitu dunia quantum dan hologram, sebagai fondasi dari pandangan hidup yang baru. Menurut mereka, ini adalah dunia yang bagian-bagiannya saling berhubungan satu sama lain dan terlibat dalam kreatifitas terus menerus, bukan bagian-bagian yang terpecah-pecah dan statis. Ia juga adalah dunia yang mendukung visi mistik yang mempersatukan, dan oleh karena itu mempunyai potensi untuk mempertemukan wawasan science dan agama mengenai tabiat realitas.
Kepercayaan New Age yang lain adalah reinkarnasi dan karma. Seperti akan yang dijelaskan di dalam tulisan ini, transformasi pribadi merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Oleh karena itu, setiap new ager akan memilih sadhana (jalan spriritual) untuk berkembang dan pertumbuhan satu periode kehidupan, maka kepercayaan terhadap reinkarnasi dan karma memberikan suatu kerangka jangka bagi seseorang untuk melihat perkembangan spiritualnya. Individu-individu akan menyelesaikan pertumbuhan moral dan spiritual mereka pada saat menjalani akibat-akibat dari perbuatan mereka yang lalu, baik di dalam kehidupan terdahulu maupun yang sekarang, dalam kehidupan yang berturut-turut dalam bentuk tubuh. Hukum karma, yaitu hukum yang mengatakan bahwa alam semesta memberi ganjaran dan hukuman, memberikan otoritas terhadap perbuatan yang bermoral. Perbuatan yang tidak bermoral menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan (bad karma) bagi pelakunya (Melton, 1986:113-114).
Kepercayaan terhadap reinkarnasi dan karma termasuk diantara sedikit kepercayaan New Age yang diyakini sedemikian kuatnya dan dengan penuh semangat. Hal ini disebabkan kepercayaan terhadap kedua hal tersebut menegasikan doktrin neraka dan kekekalan di dalamnya. Disamping itu, ia menjelaskan ketidaksamaran dan kenegatifan kehidupan. Ia juga memberi waktu tambahan yang diperlukan bagi pertumbuhan spiritual, dan menyediakan sumber yang tidak pernah habis bagi spekulasi tentang kehidupan yang lampau, pasangan yang serasi, dan kehidupan setelah meninggal.
Pengalaman transformasi.
Ide atau paham New Age yang paling utama adalah kepercayaan akan terjadinya transformasi. Trasnformasi sebagai inti dari paham atau visi New Age dikemukakan, antara lain, oleh David Spangler (1993:82) dan J. Gordon Melton. Transformasi ini, meurut mereka, dimulai pada level individu dan selanjutnya diharapkan transformasi terjadi pada level masyarakat. Dari individu yang utuh dan sehat, lahirlah pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan yang akan mentrasformasi dunia.
Bagaimana proses terjadinya transformasi pada level masyarakat? New agers percaya bahwa sekelompok minoritas yang telah mengalami transformasi dapat menimbulkan perubahan luas. Proses in mereka jelaskan melalui, antara lain, satu teori yang dikenal dengan nama critical mass. Teori ini dapat dilacak sumbernya dari cerita tentang “Pengaruh atau Fenomena Monyet Keseratus”. Pada tahun 1958 di Pulau Koshima Jepang, beberapa orang peneliti yang sedang mempelajari tingkah laku kera liar menuangkan kentang (hal 48)

Monday, April 06, 2009

Human Resource Psychological Record for Recruitment and Assesment

Human Resource Psychological Record
for Recruitment and Assesment

Di era bisnis yang sangat kompetitif seperti saat ini, semua organisasi bisnis dituntut untuk senantiasa mampu merespon kompetisi yang ada, sebab bila sampai lengah dan mengabaikan yang ada, niscaya akan berakibat fatal bagi organisasi bisnis tersebut. Diantara sekian banyak problem yang membutuhkan solusi dengan segera adalah kualitas Sumber Daya Manusia.
Kesadaran akan pentingnya Sumber Daya Manusia merupakan langkah awal yang positif dalam mengelola suatu organisasi bisnis. Akan tetapi kesadaran saja tidaklah cukup. Organisasi perlu memiliki sistem pengelolaan dan juga alat bantu yang cukup memadai dalam memberdayakan Sumber Daya Manusianya.
Ilmu psikologi sebagai salah satu ilmu pengetahuan yang aplikatif, dapat merumuskan satu alat bantu dalam sistem penilain dan pengelolaan Sumber Daya Manusia, sistem tersebut dikenal dengan Human Recourses Psychological Report (HRRP), adalah satu spektrum area konstruksi psikologis yang meliputi; profil kepribadian dan profil peran pribadi dalam satu sistem kerjasama yang sering begitu kompleks. Namun demikian, bukan berarti tidak dapat diungkap secara komprehensif. Melalui pemeriksaan psikologis dengan metode dan alat tes (tools) yang tepat dan profesional, dapat memberikan rekam psikologi (psychological record) yang validitas dan reabilitas telah teruji dan terbukti secara akurat.
Masalah-masalah yang sering muncul dalam proses penilaian SDM (HRD Assesment), baik untuk tujuan seleksi, recruitment, atupun pengembangan karyawan antara lain:
1. Kriteria keberhasilan dari suatu jabatan yang akan diisi tidak jelas, atau kriteria yang dipakai untuk menilai setiap orang tidak sama.
2. Subyektivitas atasan dalam menilai seseorang (misalnya dengan menggunakan kriteria-kriteria yang tidak berhubungan dengan tuntutan jabatan, pengaruh kesan pertama yang berlebihan, dan lain-lain).
3. pemilihan dan penggunaan metode serta teknik pengukuran yang kurang handal.
4. kurangnya kesempatan bagi sang calon pemegang jabatan untuk menunjukkan kemampuannya selama proses pengukuran.
Akibat-akibat yang ditimbulkan, diantaranya;
1. Rendahnya nilai output karena proses pemilihan dan pengembangan gagal menghasilkan individu yang prosuktif
2. Ketidakcocokan bidang kerja atau kemampuan aktual yang akan mengarah pada rendahnya moril kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan turn over karyawan. Hal tersebut bukan saja berakibat pada membengkaknya biaya training dan recruitment karyawan baru, juga berpotensi memburuknya citra perusahaan.
3. Ketidakpuasan kedua belah pihak, kandidat atau karyawan yang diukur, dan juga pengguna (yaitu managemen perusahaan) terhadap proses dan hasilnya.
4. Pertentangan yang membingungkan antara rekomendasi hasil pengukuran dengan kenyataan kemampuan sehari-hari.
Human Recourses Psychological Report (HRRP) merupakan suatu alternatif sekaligus instrument pendukung yang dianggap memiliki validitas yang tinggi dalam mengidentifikasi sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Metode ini dinilai memiliki suatu “validitas” yang cukup tinggi dalam memprediksi tingkat keberhasilan seseorang dalam eksistensinya di lingkungan kerja dimaksud. Hal ini didasari oleh berbagai berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa metode ini dinilai lebih obyektif bagi manajemen dalam mengambil keputusan berkenan dengan Sumber Daya Manusianya.
Human Recourses Psychological Report (HRRP) dapat berhasil, apabila didukung oleh 4 faktor, yaitu;
1. Dimensi, standar, Standard kompetensi atau dimensi yang jelas untuk jabatan mendatang. Hal ini bias termasuk jumlah calon yang diinginkan dan waktu pemenuhan kebutuhan harus diidentifikasi secara jelas.
2. Alat ukur, Alat Ukur yang digunakan adalah alat ukur yang memiliki validitas tinggi, yang terkait dengan posisi yang dituju.
3. Assesor, faktor keberhasilan pengukuran membuat analisa yang akurat ditentukan oleh tingkat kompetetensi assessor dan pengalamannya.
4. Sistem, diperlukan sistem ke HRD-an yang kondusif, agar hasil assesmen benar- benar bermanfaat bagi perusahaan. Sistem yang dimaksud antara lain; penempatan yang sesuai, development,choaching, guidance, dari atasan.
Tujuan Human Resourses Psycological Record (HRPR)
1. Memperoleh informasi dan gambaran yang jelas tentang kompetensi (profil) profil kepribadian dan profil peran pribadi dalam kerjasama tim setiap peserta. Informasi ini selanjutnya dapat digunakan untuk memilih dan mengembangkan pegawai tersebut secara tepat dan terarah dengan meminimalisir unsur-unsur subyektivitas.
2. Mengungkap aspek inteligensi, kepribadian, manajerial, dan kreativitas pegawai.
3. Menempatkan pegawai pada posisi yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, serta persyaratan kompetensi jabatan pada struktur organisasi yang berlaku.
4. Mengidentifikasi kompetensi individual yang perlu diperbaiki dari masing-masing pegawai sebelum masukan dalam “training need analysis”.
Instrumen Human Resourses Psycological Record (HRPR)
1. Kecerdasan Intelektual (IQ)
2. Sikap kerja
3. Kecerdasan emosi (Emotional Inteligence)
4. Konstruksi psikologis
5. Keterminatan
6. Peran individu dalam tim

Implementasi
Human Resourses Psycological Record (HRPR) meliputi 4 tahap pelaksanaan, yaitu;
1. Persiapan, dengan tujuan:
1. Untuk memperoleh gambaran mengenai organisasi
2. Mengidentifikasi kebutuhan organisasi
3. Menentukan standar kriteria atau kompetensi yang dibutuhkan pada jabatan yang akan diukur.
2. Pelaksanaan Pemeriksaan Psikologis
Metode yang dipakai dalam tahap ini meliputi:
1. Wawancara
2. Paper & Pencil Tes
3. Inventory
Report Writing
Hasil laporan lengkap akan disampaikan 2 (dua) minggu setelah proses pemeriksaan psikologis dan pengumpulan data terlaksana. Laporan tersebut akan terdiri dari (tiga) bagian, yaitu;
 Deskripsi Program, Berisi tentang gambaran rekam psikologis (psycological record), uraian mengenai masing-masing aspek psikologis yang diukur sehingga tampak dinamika kepribadian dan potensi yang dimiliki subyek.
 Kualifikasi dan Kompetensi, berisi uraian konstruksi psikologis (profil kepribadian, tipe individu dalam kerja sama di suatu tim kerja).
 Kesimpulan dan Rekomendasi, merupakan rangkuman terhadap semua aspek hasil pemeriksaan psikologis. Kesimpulan ini kemudian dibandingkan dengan spesifikasi pekerjaan atau spesifikasi personil yang sudah ditetapkan dan pengembangan yang diperlukan.
Presentation to management
Tujuan:
Memberikan gambaran mengenai kekuatan, kelemahan, serta pengembangan yang diperlukan setiap subyek.

Wednesday, April 01, 2009

Kau dan gundahmu

Berkali sudah kau hinggap di dahanku
kau tumpahkan rasa dan galaumu
sedu sedanmu
kupikir kau memang membutuhkan embun pagi
yang selalu sejuk disetiap pagi
engkau akan bersemayam di dahanku yang paling kau gemari
yang takkan pernah patah

Namun sewaktu kuminta engkau
untuk tetap tinggal disini
bersama angin, badai dan juga sinar mentari
serta kesejukan embun pagi
kau menolaknya
kau bilang akan mencoba pindah ke pohon yang lain
aku tak bisa mencegahmu

Selamat jalan camarku
kepakkan sayapmu
dan kau harus mampu membuang semua gundahmu
kau mungkin tak akan pernah lagi hinggap di dahanku
namun aku takkan merindukanmu

Matraman, akhir Maret 2009

Wednesday, February 18, 2009

Kemurtadan yang Niscaya dan Globalisasi Dakwah

Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Pindah agama biasa disebut sebagai konversi. Ada dua model konversi: internal dan eksternal. Konversi internal adalah peristiwa yang hampir lazim terjadi dalam semua agama. Ia terjadi saat seseorang pindah dari mazhab dan perspektif tertentu ke mazhab dan perspketif lain, tetapi masih dalam lingkungan agama yang sama. Seseorang yang semula “fundamentalis” berubah jadi “moderat” atau sebaliknya, pada dasarnya telah melakukan konversi, tetapi dalam batas-batas agama yang sama.
Pindah agama biasa disebut sebagai konversi. Ada dua model konversi: internal dan eksternal. Konversi internal adalah peristiwa yang hampir lazim terjadi dalam semua agama. Ia terjadi saat seseorang pindah dari mazhab dan perspektif tertentu ke mazhab dan perspketif lain, tetapi masih dalam lingkungan agama yang sama. Seseorang yang semula “fundamentalis” berubah jadi “moderat” atau sebaliknya, pada dasarnya telah melakukan konversi, tetapi dalam batas-batas agama yang sama.
Dengan makin membludaknya pilihan-pilihan “pendekatan” dalam memahami agama (Islam, misalnya) saat ini, maka peristiwa konversi internal hampir merupakan kejadian yang lazim terjadi setiap saat. Seorang sosiolog agama dari Boston University, Peter Berger, bahkan menyebut salah satu ciri modernitas adalah munculnya gejala “heretical imperative”, gejala kemurtadan yang niscaya. Murtad di sini dimaknai menyimpang dari pandangan yang dominan dalam sebuah agama.
Sekarang ini, seseorang bisa dengan mudah menjadi “koki” agama untuk dirinya sendiri. Maksudnya, dia bisa meracik ramuan “agama” dari pelbagai sumber, entah kiai, buku, majalah, koran, atau ceramah di TV dan radio, lalu memasak bahan-bahan itu menjadi “menu” baru yang pas untuk dirinya sendiri.
Dalam satu aspek, dia bisa ambil dari Quraish Shihab, dari aspek lain kulakan dari Kang Jalal, sementara di aspek lainnya lagi bisa mencomot dari MUI, lalu bahan-bahan itu ia olah sendiri menjadi “model Islam baru” yang “customized” dan pas benar dengan ukuran hati dan pikiran dia sendiri. Semua orang, sekarang, makin cenderung memiliki agama yang pas buat dirinya sendiri, hasil dari racikan yang ia buat sendiri.
Bentuk-bentuk Islam yang sudah “cutomized” itu tak perlu disuarakan secara publik ke luar, tetapi umumnya tersimpan sebagai rahasia pribadi antara orang berangkutan dengan dirinya sendiri dan Tuhan. MUI tak meungkin berkuasa mendikte jenis Islam apa yang harus diyakini oleh masing-masing individu pada wilayah yang sangat privat ini.
Karena bahan bacaan yang makin meluas, atau pengalaman hidup yang baru, orang bisa mengocok kembali racikan yang ada, menambahkan racikan baru, membuang beberapa racikan lama yang sudah usang, lalu menciptakan Islam baru yang lain lagi dan lebih pas dengan dirinya yang sudah berubah itu. Dalam hal ini, ia telah melakukan proses “swa-murtad”, maksudnya, murtad dan menyeleweng dari “racikan Islam lama” yang ia ciptakan sendiri, menuju racikan baru yang lebih cocok.
Begitulah, proses itu berlangsung terus sepanjang hidup orang modern. Kita memasuki era “customized Islam”, era di mana telah terjadi heretical imperative.
Sementara itu, konversi eksternal terjadi jika seseorang pindah dari satu agama ke agama lain. Konversi internal jauh lebih sering terjadi ketimbang konversi eksternal. Yang terakhir ini biasanya terjadi dalam situasi yang sangat khusus.
Saya kira, agama yang paling bersemangat melakukan konversi eksternal saat ini adalah Kristen, terutama Kristen evangelis dengan beragam denominasi. Rangking kedua diduduki Islam, terutama Islam Wahabi yang didanai milyaran petro-dollar Arab Saudi. Rangking berikutnya adalah Budha.
Jarang orang memperhatikan bahwa agama Budha juga salah satu agama yang pesat perkembangannya di Barat saat ini. Yang menarik, penyebaran agama Budha di Barat, terutama di AS, tidak terkait dengan kegiatan proselitisasi yang agresif seperti kita kenal dalam Kristen. Agama Budha dipeluk orang-orang Barat justru sebagai lifestyle baru yang menggairahkan. Sebagaimana orang-orang dengan bergairah menyambut buku Da Vinci Code, begitu pula tingginya entusiasme mereka menyambut agama Budha, Dalai Lama, dan kebijaksanaan timur yang bersumber dari agama itu.
Kita mengenal gejala yang disebut New Age di mana unsur-unsur agama Budha sangat berpengaruh di sana. Karena kejenuhan orang Barat terhadap agama-agama terorganisir seperti Kristen, agama Budha bisa menjadi alternatif yang menarik buat mereka, sebab agama ini (tidak semuanya, tetapi beberapa sekte di sana) tidak terlalu peduli dengan aspek kelembagaan.
Yang ditekankan adalah proses meditasi personal. Tidak ada “syariat” di sana. Yang ada adalah “laku” atau “tarikat”. Agama ini, diam-diam, berkembang pesat di dunia Barat, dan tampaknya lebih cocok dengan orang modern yang sudah lelah akan “institusi”.
Di negeri-negeri luar Eropa atau Amerika, kegiatan proselitisasi memang jadi masalah besar. Di Cina, dakwah Kristen mendapat rintangan dan tekanan luar biasa dari pemerintah komunis. Di India, reaksi atas Kristenisasi juga luar biasa keras. Di semua negara Timur Tengah, aktivitas Kristenisasi tak bisa berkembang dengan leluasa karena resistensi pemerintah atau masyarakat setempat. Di Asia Tenggara, seperti Burma, Vietnam dan Kamboja, Kristenisasi juga mendapat reaksi yang tak kalah keras dari masyarakat Budhis di sana.
Kristenisasi yang paling sukses di Asia terjadi di Korea Selatan. Bahkan, Korsel telah berhasil melahirkan gereja-gereja baru yang berbasis kultur Korea dan memunculkan genre Kristen baru yang boleh disebut “Koreo-Christianity”.
Secara umum, agama Kristen merosot total di Eropa, tapi mengalami re-invogorasi di negeri-negeri dunia ketiga, terutama di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Agama Islam sendiri, sebetulnya, juga tak kalah agresif dalam kegiatan proselitisasi. Seperti yang telah saya sebut, Arab Saudi adalah negeri yang paling bersemangat mendakwahkan Islam model Wahabi ke seluruh penjuru dunia. Tetapi, banyak orang lupa, ada sejumlah proselitisasi Islam yang dilakukan oleh kelompok-kelompok “swasta” atau organisasi-organisasi mandiri seperti Ahmadiyah dan Jamaat Tabligh. Banyak yang tidak tahu, proses Islamisasi di Afrika terjadi dengan sangat sukses berkat dakwah yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah dan Jamaat Tabligh.
Jika melihat gejala proselitisasi ini secara global, sesungguhnya kita sedang melihat proses makin intensifnya gejala dakwah agama dalam semua agama di tingkat dunia. Dengan mengecualikan sejumlah agama lokal yang sifatnya sangat terbatas, kita melihat semua agama saat ini melakukan proselitisasi dengan satu dan lain cara. Proses proselitisasi makin menjadi fenomena global. Globalisasi dakwah adalah gejala yang makin umum, dan sebetulnya merupakan bagian dari gejala globalisasi dalam makna yang luas.
Sebagaimana kita tak bisa menghindar dari “tempias” berita-berita yang disiarkan CNN; atau lebih tepatnya lagi, sebagaimana kita tak bisa menghindar dari Microsoft, begitu juga kita tak bisa menghindar dari gejala globalisasi dakwah.
Ulil Abshar-Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal
20/03/2006 | Kolom | #

Komentar
Komentar Masuk (4)

Sebagai mahasiswa, saya ingin membeitahukan bahwa dalam memberikan tanggapan ini mungkin belum sebaik yang diberikan oleh para saudara-saudara sebelumnya tetapi setidaknya tidak dengan nada merendahkan seperti saudara muhammad hafidz.Jadi bila tanggapan ini kurang baik dimata bapak ulil, mohon maaf.
Yang ingin saya katakan setelaah membaca artikel ini sehinggas menimbulkan pertanyaan2, seperti apakah rasisme di dalam kristen sendiri sudah hilang sehingga masyarakat dunia ketiga merasa bahwa kristen bukan dalih untuk kolonialisasi seperti yang dilakukan oleh eropa abad 19.Dengan melihat rujukan yang saya baca di buku tokoh kita, imam nurcholis madjid, alm yang berjudul “islam doktrin dan peradaban”, disitu dijelaskan bahwa penyebaran agama kristen di afrika sangat lamban karena sikap gereja yang membentuk semacam sistem kasta atau strata.jadi kesimpulan saya dalam tanggapan ini,islam yang relevan memang seharusnya tidak mengisolasi diri karena paradigma penjajahan atau kultur tradisional yang hanya menghambat perkembangan islam selanjutnya.
Untuk bapak ulil abshar saya sangat berharap jamaah islam liberal mampu memberikan pengertian yang relevan dan realistis kepada masyarakat kita tentang bahaya bid’ah didalam islam khususnya indonesia. terimakasih.
Posted by hendra lesmana on 03/31 at 12:03 AM

Saya juga mencermati perkembangan agama Budha yg cukup pesat di negara2x Barat. Saya melihat banyak masyarakat Barat yg sangat respect thd ajaran2x Budha, sebagaimana mereka juga respect thd Islam beberapa tahun lalu sblm 9/11.
Saya melihat Islam menjadi jelek di mata masyarakat Barat saat ini karena banyak umat Islam yg menggambarkan Islam sebagai agama yg tidak cinta kasih, tuhannya orang Islam aja (bukan tuhan semesta alam) dan yg masuk surga orang Wahabi saja.
Jadi kejelekan itu terjadi karena salesmannya yg jelek, walaupun product itu sendiri (Islam) adalah produk yg bagus. Nabi Muhammad SAW pun akan sedih kalau melihat pengikut2xnya menjadi bad salesman karena bukankah nabi sendiri merupakan salesman yg hebat, hingga menyebarluaskan Islam hingga sebesar skrg ini:)
Posted by Ahmad Arief on 03/23 at 08:03 PM

Sayang sekali, Ulil tidak (’mampu’) memberikan sumber rujukan data ketika ia membikin rangking agama-agama yang melakukan konversi eksternal, juga ketika ia menguraikan tingkat pertumbuhan agama-agama di dunia Barat, sehingga kesan yang muncul di benak pembaca, Ulil tengah berhalusinasi yang ia tuangkan dalam tulisan tersebut. Semoga cukup sekali ini saja Ulil berhalusinasi
Mas Hafid
Posted by M. Hafid on 03/22 at 06:03 PM

Mengenai Dalai Lama,
Sebelumnya saya perlu tegaskan bahwa saya tidak bermaksud menghina agama tertentu (dalam hal ini Budha), tapi mungkin memang sudah sifat alami saya “being skeptic”.
Untuk teman2 lain (kalau teman2 aktifis JIL terutama para scholars, tentunya tidak perlu “dikuliahi” soal ini): sebelum melangkah terlalu jauh dengan memandang agama2 dari “timur” (seperti Hindu, Budha, Shinto, whatever) lebih baik (dalam arti lebih bijak, etc), dan lantas mengagung2kan (atau mengkultuskan figur2 seperti Dalai Lama) sebagai orang suci… I would like to say: dia manusia biasa, bisa berbuat salah (tentunya untuk beberapa hal benar/salah bisa jadi suatu yang subjektif, entahlah). Mungkin saja, hanya seberapa sering dia berbuat “salah” itu yang beda, tergantung pada intelektualitas dan pengendalian diri (kebijaksanaan/pengalaman).
Saya iseng menulis comment ini, sebab beberapa hari yang lalu saya membaca kritik terhadap Dalai Lama: http://www.salon.com/news/1998/07/13news.html
Well… gak ada maksud apa-apa. Saya cuma mengekspresikan skeptisisme saya terhadap “orang suci”. Orang baik ada (banyak), tapi orang suci… well, nanti dulu. I (think) I respect figures like Dalai Lama, not because of his “saint” status, tapi mungkin karena (setahu saya) dia relatif lebih “baik” dari saya (dan mungkin kebanyakan orang lainnya).
Mungkin saya akan dibilang “bejat”, bukan hanya oleh kalangan Islam, atau apalah istilahnya (setahu saya, di Katolik juga banyak saints). Tapi memang saya seperti itu. Terhadap figur yang notabene di Hindu pun saya cenderung begitu: Swami Vivekananda (Bhagawadgita Menurut Aslinya), misalnya. Saya sempat tidak tertarik membaca bhagawadgitha hanya karena dia, dengan judul bukunya, seakan2 mengesankan dialah yang punya authorisasi atas isi bhagavadgitha. Sampai akhirnya saya mikir:… well, kenapa gak saya coba liat dulu isinya, kalau memang ada yang berguna (dalam arti bisa membuat saya berpikir dan bersikap lebih baik sebagai manusia), kenapa tidak? Masalah asli /kurang asli..., kenapa saya harus pusing? Anyway, critic and skepticism terhadap “agama”, bagi saya akan terus saya jalankan.
Yah, segitu aja unek2 saya I like reading JIL (seperti memberi harapan, bahwa di Indonesia gak semuanya seperti FPI, MMI, dan yang sangar2 itu). I’m not a moslem, I call myself a Hindu, tapi keep up the good work guys (to JIL).
Posted by Cokorda Raka Angga Jananuraga on 03/22 at 06:03 PM
http://islamlib.com/id/artikel/kemurtadan-yang-niscaya-dan-globalisasi-dakwah/

Monday, February 16, 2009

Valentino Rossi dan Fenomena Industri Kita



Senin,9 Februari 2009, Valentino Rossi, Pembalap MotoGP kenamaan datang ke Jakarta, ia hendak menyapa para penggemarnya di negeri ini. Baginya, Indonesia mempunyai tempat khusus dalam perjalanan karir dan hidupnya, sebab ia pertama kali naik ke podium kehormatan sebagai pemenang manakala ia berlaga di sirkuit Sentul, pada 1996, saat ia masih bersama Honda.
Sungguh luar biasa antusiasme para penggemarnya di Jakarta, mereka menyambut semenjak dari bandara, sampai pada venue yang disediakan oleh panitia, yaitu Istora. Sayang, nampaknya panitia over dalam menampilkan Rossi di depan pengunjung yang ribuan jumlahnya di Istora, Rossi 'disajikan' didepan para pengagumnya dengan bumbu tarian dari wanita-wanita yang berpakaian norak dan seronok. Nampaknya panitia tidak paham benar dengan para penggemar Rossi, sesungguhnya Rossi zonder mereka (wanita-wanita penari berpakaian norak dan seronok) tetaplah menarik dan mempesona, sebab disamping kepribadiannya yang hangat, ramah dan santun, juga (dan ini yang paling penting) kepandaian dia mengendalikan motor dan keberanian dia melakukan manuver di tiap tikungan di lintasan balap. Justru penampilan para penari (wanita-wanita berpakaian norak dan seronok)tersebut kontra produktif adanya, sebab keberadaan mereka 'menganggu pemandangan' bagi penggemar Rossi.
Nampaknya panitia bukan saja tidak paham, tapi mereka juga merupakan sebagian orang yang gemar mengeksploitasi para perempuan untuk kepentingan industri mereka, mereka berpikir bahwa tanpa penampilan wanita-wanita penari berpakaian norak dan seronok, apa yang mereka sajikan tidak akan diminati oleh para pelanggan/costumer, sungguh sebuah ironi yang memilukan.

Tuesday, February 03, 2009

Komisi-Komisi Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan Kita

Amandemen yang dilakukan terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membawa implikasi pada perubahan sistem ketatanegaraan kita, hal tersebut bisa kita lihat apabila kita mengamati pemilahan pada lembaga negara yang ada. Ambil contoh; bila sebelum amandemen, kita mengenal adanya lembaga tinggi negara dan lembaga tertinggi negara, maka setelah amandemen, dikotomi tersebut sirna, demikian juga kita mengalami penambahan beberapa lembaga, yang semula belum kita kenal keberadaannya, namun pasca perubahan/amandemen UUD 1945, lembaga-lembaga tersebut muncul.
Secara sederhana sistem ketatanegaraan kita dapat saya deskripsikan sebagai berikut;
1. Lembaga Negara (LN) Institusi ini eksistensinya termaktub dalam UUD 1945, diantaranya: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Presiden, Makhkamah Agung (MA), Makhkamah Konstitusi (MK), dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta Komisi Yudisial (KY), saya pernah menginventarisir perbedaan penafsiran antara Baharudin Aritonang (Anggota BPK) dan Jimly Asshidiqi (yang waktu itu menjabat sebagai ketua Makhkamah Konstitusi) yang berbeda pendapat antara menurut Baharudin KY sejajar dengan lembaga-lembaga negara di atas, namun menurut Jimly tidak sejajar. Kemudian kita juga mendapati Bank Indonesia (BI) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam UUD juga dicantumkan, untuk kemudian pengaturannya di-breakdown ke dalam bentuk Undang-Undang, khusus untuk KPU, di dalam Undang-Undang Dasar ditulis dengan huruf kecil, yaitu komisi pemilihan
2. Lembaga Pemerintahan, yang secara umum bisa didefinisikan sebagai salah satu institusi kelengkapan negara, dengan fungsi utama menjalankan pemerintahan, eksistensinya termaktub dalam UUD 1945, kemudian dibreakdown ke dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden, adapun bentuk lembaganya secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu;
A. Kementrian Negara, yang berjumlah 36 kementrian, baik yang level departemen
maupun non departemen (seperti misalnya Kementrian Pemuda dan Olah Raga)
B. Lembaga Pemerintahan Non Departemen (LPND), diidentifikasi ada sekitar 25,
contoh lembaga-lembaga tersebut seperti; Badan Intelijen Negara (BIN), Badan
Pertanahan Nasional (BPN), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),
Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPPOM), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPPT, BATAN, BAPETEN, BAKOSURTANAL, BPHN. Lembaga-lembaga tersebut bertanggung jawab kepada Presiden.
3. Lembaga Kuasi Negara, Adalah lembaga yang dibentuk sebagai salah satu cara guna menangani masalah-masalah tertentu sesuai bidangnya. Oleh Baharudin Aritonang didefinisikan sebagai; Lembaga masyarakat yang diformalkan sehingga mengambil peran kewenangan negara dalam bidang masing-masing, dengan kata lain Lembaga Kuasi Negara, atau State Auxalary Bodies, yaitu Lembaga yang dibentuk atau didirikan untuk menangani masalah-masalah khusus sesuai dengan spesifikasinya, yang pada umumnya pendiriannya merupakan sebuah reaksi atas ketidakmampuan institusi yang ada menangani masalah tersebut, struktur dan cara kerja lembaga tersebut bersifat independen, meskipun demikian supratruktur dan infrastrukturnya disediakan oleh negara.
Pada hakikatnya, lembaga kuasi negara merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang kemudian diformalkan menjadi Lembaga Negara, kita bisa melihat hal tersebut, sebagai sample; adalah sebuah lembaga perlindungan anak yang ada di Jepang, semula lembaga tersebut merupakan sebuah LSM, namun karena kinerja dan eksistensinya sangat bermakna bagi pemerintah dan masayarakat, maka kemudian lembaga tersebut diformalkan menjadi lembaga negara.
Di Indonesia, secara umum, yang mendasari pembentukan lembaga ini ada dua alasan;
1. Karena tidak adanya lembaga dalam struktur resmi kenegaraan kita yang secara spesifik menangani masalah tersebut, seperti misalnya; Komnas HAM, yang dibentuk sebagai komisi negara pertama yang dibentuk, disampaing sebagai bentuk akomodasi terhadap mengemukanya dorongan wacana penegakan Hak Asasi Manusia, juga dikarenakan tidak adanya lembaga yang secara spesifik menangani masalah Hak Asasi Manusia.
2. Sebagai salah satu kanal bagi terciptanya/terselenggaranya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, hal tersebut didasari pada realitas bahwa beberapa lembaga negara dan pemerintahan yang ada belum mampu menjalankan perannya secara optimal, misalnya Komisi Pemilihan Umum dibentuk sebagai alternatif penanganan kasus-kasus korupsi yang sedemikian parah di negeri ini, sebab aparat hukum yang ada (seperti Kepolisian dan Kejaksaan) dianggap tidak mampu menangani masalah tersebut.
Dasar Hukum Lembaga-lembaga tersebut beragam; ada yang berdasarkan Undang-Undang Dasar seperti misalnya Komisi Pemilihan Umum (KPU), Undang-Undang seperti mislanya Komnas HAM, PP, Perpres, Kepmen s
Adapun nama lembaga Kuasi Negara tidak selalu Komisi, namun ada juga yang nama Lembaga, contoh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban
Bila diilustrasikan dalam bentuk denah, maka tampilannya seperti di bawah ini;

1. Lembaga Negara  DPR, DPD, MPR, Presiden, MA, MK,
KY, BI, KPU (Eksistensisnya merupakan amanah dari UUD 1945, sementara teknis pengaturan operasionalnya dituangkan dalam bentuk Undang-Undang.
2. Lembaga Pemerintah  Kementrian Negara (Baik yang berbentuk,Menko, Departemen, maupun Non-Departemen), jumlahnya ada 36. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) ada 25; BIN, BPN, BKPN, BPKP, Badan POM, LIPI, BPPT, BATAN, BAPETEN, BAKOSURTANAL, BPHN.
3. Lembaga Kuasi Negara  Komisi-Komisi (Negara) yang saya maksud, ada-pun dasar pendiriannya ada yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar (UUD), UU, Perpres, Kepress dan Kepmen.
Adapun jumlah Komisi Negara yang ada sampai saat ini adalah;
1. Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia)
2. KPAI (Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia), atau juga dikenal sebagai Komnas Anak
3. KPU (Komisi Pemilihan Umum)
4. Komnas Perempuan (Komisi Nasional Perempuan), juga disebut sebagai Komisi Nasional Perlindungan terhadap Perempuan
5. Kompolnas (Komisi Kepolisian Nasional)
6. KY (Komisi Yudisial)
7. KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha)
8. Komisi Kejaksaan
9. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
10. Komisi Ombudsman
11. KHN (Komisi Hukum Nasional)
12. Komnas FPBI (Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi
Pandemi Influenza, Komisi Nasional Flu Burung)
13. Komnas LANSIA (Komisi Nasional Lanjut Usia)
14. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia )
15. Komisi Konstitusi
16. Komisi Pendidikan Nasional
17. Komisi Informasi
18. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
19. Komisi Pengawas Penyeleggaraan Haji
20. Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh

Selain yang disebutkan di atas, masih ada lagi lembaga Kuasi Negara yang kedudukannya sejajar dengan Komisi-Komisi Negara, namun berbeda namanya, diantaranya;
1. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban
2. Konsil Kedokteran Indonesia
3. Komite Nasional Keselamatan Trasnportasi (KNKT)
4. Komite Olah Raga Nasional Indonesia
5. Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK)
6. Komite Antar Depertemen Bidang Kehutanan
7. Komite Penilaian Independen
8. Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK)
9. Komite Standard Nasional Untuk Satuan Ukuran
10. Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak
11. Komite Penanganan Perdagangan Indonesia
12. Komite Anti Dumping Indonesia
Kemudian ada sejumlah lembaga yang namanya berbeda, yaitu menyandang nama Dewan, namun berbeda dari Dewan Perwakilan Rakyat, namun memiliki fungsi yang hampir sama dengan beberapa lembaga yang tersebut di atas, lembaga-lembaga tersebut diantaranya adalah;
1. Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)
2. Dewan Pers
3. Dewan Maritim Indonesia
4. Dewan Gula Nasional
5. Dewan Ketahanan Pangan
6. Dewan Buku Nasional
7. Dewan Penerbangan Antariksa Nasional
8. Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia
9. Dewan Riset Nasional
10. Dewan Ketahanan Nasional
11. Dewan Pengarah LEMHANAS
12. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah
Kita juga menemukan sejumlah insititusi negara/pemerintah, yang merupakan penambahan dari sekian banyak yang sudah ada, diantaranya adalah;

1. Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Penyandang Cacat
2. Lembaga Sensor Film
3. Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
4. Badan Akreditasi Nasional, Perguruan Tinggi
5. Badan Akreditasi Nasional, Sekolah/Madrasah
6. Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal
7. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (LAPINDO?)
8. Badan Pengembangan KAPET
9. Badan Narkotika Nasional
10. Bakornas PBP
11. Badan Pengelolaan Geloran Bung Karno
12. Badan Pengelola Kawasan Kemayoran
13. Badan Pertanahan Nasional
14. Badan Pengelola PUSPITEK
15. Badan Pertimbangan Perfilman Nasional
16. Badan Nasional Sertifikasi Profesi
17. Badan Koordinasi Penempatan TKI

Sebagian kalangan memandang bahwa jumlah Lembaga Kuasi Negara/ Komisi-Komisi Negara tersebut terlalu banyak, sehingga bukan saja merupakan cerminan buruk birokrasi di negeri ini, realitas tersebut juga berimplikasi pada kurang efesiennya anggaran yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.

Wednesday, January 28, 2009

Direktori Perpustakaan di DKI Jakarta

Saya bersyukur, dalam pekerjaan saya, tidak dituntut untuk senantiasa stay di kantor, dengan kata lain, saya bukan orang belakang meja,melainkan orang lapangan, kondisi seperti itu membuat saya sering kali punya waktu luang, sebab pada saat tidak ada janji atau pekerjaan dengan costumer, dan urusan di kantor pun beres, maka selebihnya ada peluang bagi saya untuk memanfaatkan waktu tersebut, pelampiasan saya dalam mengisi waktu luang tidak lain dan tidak bukan adalah perpustakaan, saya gemar ke perpustakaan, sebab disamping merupakan gudang ilmu pengetahuan, perpustakaan juga merupakan satu tempat yang amat tenang, sehingga terasa nyaman dan santai.
Tidak ada salahnya bila saya membagi informasi kepada Anda seputar keberadaan perpustakaan yang ada di wilayah DKI Jakarta, dengan harapan dapat membantu Anda menemukan tempat yang tepat apabila ada diantara Anda yang bermaksud mengunjungi perpustakaan guna mendapatkan rujukan dan inforamasi dalam menyelesaikan tugas Anda;
Berikut ini beberapa perpustakaan yang ada di Jakarta;
1. Aksara Foundation
Jl. Arco Raya Cipete Selatan
Jakarta Selatan 12410
Telp. 75905521, 75905523 Fax. 7652480
www.aksara.or.id
2. Asean Secretariat
Jl. Sisingamangaraja No 70 A Jakarta Selatan 12110
Telp. 7262991 Ext. 200 Fax. 7398234
www.aseansec.org
3. Badan Pusat Statistik
Jl. Dr. Sutomo No. 6-8 Jakarta 10710
Telp. 3810291-4, 3841195, 3842508 ext. 3240
Fax. 3857046
www.bps.go.id
4. CSIS Library
Jl. Tanah Abang III No. 24
Tanah Abang Jakarta Pusat
(sedang direovasi, tutup, buka kembali pada Januari 2011)
www.csis.or.id


5. Centre for Local Government Innovation
Jl. Sumatra No. 4 Menteng Jakarta Pusat10350
Telp. 3918704, 3902422, 3153987
Fax. 336145
www.clgi.org
6. Central Bank (Bank Indonesia)
Jl. MH Thamrin No. 2 Jakarta Pusat 10110
Telp. 3817187 Fax. 3501867
7. Freedom Institute
Jl. Proklamasi No. 41 Menteng Jakarta Pusat
Telp. 31909226, 31909227, Fax. 3916981
8. Habibie Centre
Jl. Kemang Selatan No. 98 Jakarta 12150
Telp. 78178211, Fax. 7817212
9. International NGO Forum on Indonesia Development
Jl. Mampang prapatan XI No.32 Jakarta Selatan 12790
Telp. 791-96721, 79196721, fax. 7941577
www.infid.or.id
10. Institiut Studi Arus Informasi (ISAI)
Jl. Utan Kayu No 68H Jakarta 13210
Telp. 8573388 ext. 104 fax. 8573387
www.isai.or.id
11. IRC US Embasy
Jl. Medan Merdeka Selatan 4-5 Jakarta 10110
Telp. 3508467, 34359519
www.Usembassyjakarta.org
12. Japan Foundation
Gedung Sumitmas I Lt. 2-3
Jl. Jendral Sudirman Kav. 61-62
Telp. 5201266, 5255159

13. Komnas HAM
Jl. Latuharhary No 4B Menteng Jakarta Pusat 10310
Telp. 3925230, ext. 108-109 fax. 3925227
www.komnasham.or.id
14. LPPM
Menteng Raya No. 9 Jakarta 10340
Telp. 2300313, ext 1961, 1163
Direct 3902572, fax. 2302051
www.lpppm.ac.id
15. Perpustakaan Umum Daerah
Gedung Nyi Ageng Serang lt 7-8
Jl. HR Rasuna Said Kuningan
Telp. 5263241, 5263242, 5263243
16. Perpustakaan Nasional
Jl. Salemba Raya 28A Jakarta Pusat 10430
Telp. 3156149, 3101411
www.pnri.go.id
17. PDII LIPI
Jl. Jend. Gatot Subroto No 10 Jakarta 12190
Telp. 57333465, 5250719, fax 5733467
www.pdii.lipi.go.id
18. Perpustakaan Umum Jakarta Pusat
Jl. Tanah Abang I (Samping kantor Walikota)
Jakarta Pusat
19. Pusat Informasi Kompas
Jl. Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, fax 5347743
20. RIDEP Institute
Jl Utan Kayu Raya No. 69D
Jakarta 13210
Telp. 8196560, 8196489
21. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
Jl. Pancoran Barat VII No. 1
Duren Tiga Jakarta Selatan 12760
Telp.79191255, 7971378
www.ylki.org
22. Library @ Senayan
Gedung Depdiknas Lt. I, Jl. Jend. Sudirman Jakarta

Selain beberapa dari yang sudah saya tuliskan di atas, masih banyak perpustakaan yang terdapat di DKI Jakarta dan sekitaranya, seperti misalnya di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan juga berbagai tempat atau lembaga lainnya.
Secara umum, kondisi perpustakaan yang ada memang cukup baik, meski kita tidak pungkiri masih terdapat beberapa kekurangan, diantaranya yang bisa saya kemukakan adalah;
1. Jam buka perpustakaan-perpustakaan tersebut (dan memang perpustakaan pada umumnya di Indonesia) masih sangat terbatas, yaitu hanya pada jam kerja saja. Idealnya jam buka perpustakaan , sebagaimana di negara-negara maju, sampai melampaui jam kerja, sampai jam 24.00 misalnya, bahkan konon kabarnya ada perpustakaan yang buka selama 24 jam.
2. Pelayanan dari para petugas di beberapa perpustakaan tersebut masih belum maksimal, mental feodal nampak masih mendominasi cara kerja mereka, terutama pada perpustakaan yang dimiliki oleh pemerintah.
3. Satu-satunya perpustakaan umum yang terlihat sudah banyak berbenah adalah Perpustakaan Nasional, yang berada di Jl. Salemba Raya No 28A. Disana kita bisa menikmati akses internet gratis, sebab perpustakaan tersebut memang sudah dilengkapi dengan fasilitas Hot Spot, jadi kita tinggal membawa laptop yang ada fasilitas Wi-Fi nya, maka kita sudah bisa mengakses internet free. Perubahan lain yang bisa kita nikmati adalah, pembuatan kartu anggota yang tidak memerlukan waktu lama dengan biaya yang relatif murah, waktu pembuatan kartu tidak lebih dari 10 menit, adapun biayanya Rp. 10.000,- untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, dan Rp. 15 000, untuk golongan umum. Selain dari itu, waktu buka perpustakaan juga relatif lebih lama, yaitu pada hari Senin sampai Kamis dari jam 09.00 WIB sampai dengan pukul 17.30, adapun pada hari Jumat tutup pada pukul 17.00 WIB, sedangkan pada hari Sabtu buka mulai pukul 09.30 sampai pukul 12.00 WIB.
4. Fasilitas pendukung fital sebuah perpustakaan adalah mesin foto copy, jarang sekali perpustakaan yang menyediakan sarana tersebut, kalaupun ada, justru biayanya berkali-lipat lebih mahal bila dibandingkan dengan biaya foto copy di luar perpustakaan, hal tersebut bias kita temui pada Perpustkaan Nasional maupun Library @ Senayan, serta Perpustakaan CSIS.
5. Satu hal yang sangat ironis terjadi di di Library @ Senayan, perpustakaan yang nota bene milik pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional) seakan mempelopori untuk menjadikan perpustakaan sebagai lahan guna memperoleh sejumlah dana dari masyarakat (dalam hal ini pengunjung perpustakaan), sebagai contoh, di Library @ Senayan, pengunjung yang akan menjadi member diberikan tawaran untuk memilih satu diantara tiga kelas/golongan membership yang ada, semakin tinggi gridnya, maka semakin mahal juga harganya. Demikian juga dalam hal akses internet, pengunjung yang merupakan member diberi akses berdasarkan kategori membrshipnya, adapun pengunjung yang bukan member akan dikenai biaya akses sekian kali lipat lebih mahal bila dibandingkan dengan biaya akses internet di Warung Internet, belum lagi fasilitas mesin foto copy, juga menjadi sarana yang basah guna meraih dana sebanyak-banyaknya, dengan tujuan yang tidak jelas, sebab bila alasannya adalah untuk biaya perawatan atau operasional, bukankah perpustakaan tersebut sudah didanai dengan dana dari pemerintah (APBN atau anggaran lainnya)? Dan juga, bukankah koleksi perpustakaan tersebut merupakan hibah dari The British Council?
Miris memang, disaat masyarakat dituntut untuk gemar membaca, perpustakaan milik pemerintah justru membikin peraturan yang kontraproduktif dengan tuntutan tersebut. Kapan bangsa ini akan mengejar ketertinggalan, bila untuk ke perpustakaan saja malah dihadang dengan aneka problema yang tak jarang menyebalkan.
Semoga informasi di atas bermanfaat.

Wednesday, January 14, 2009

Hujan di Jakarta dan di Gaza

Terhitung sejak hari Senin 12 Januari 2008, setiap hari diguyur hujan, bahkan hujan dimulai dari subuh, waktu siang hari hujan juga tetap rajin mengguyur ibukota, meski diselingi reda beberapa saat, namun kemudian turun lagi, otomatis kondisi tersebut menganggu aktivitas sebagian warga, terutama mereka yang melakukan aktivitas di luar ruangan (out door), bahkan bagi mereka yang beraktivitas dan bekerja di dalam ruangan (kantor misalnya) pun banyak yang merasa terganggu, sebab pada saat berangkat dan pulang mereka tak jarang diguyur hujan. Bahkan sebagian rumah warga sudah terendam banjir, ketika hujan tak henti turun di ibukota.
Namun apalah artinya ‘gangguan’ yang kita alami di negri ini, jika memang hujan kita anggap sebagai gangguan, bila dibandingkan apa yang tengah dialami oleh suadara-saudara kita di Jalur Gaza; hujan yang turun di wilayah mereka bukan berupa air, juga bukan hujan batu yang mereka alami, padahal membayangkankan pun kita tak sanggup, bagaimana rasanya bila terjadi hujan batu, tapi hujan yang dialami oleh saudara-saudara kita adalah ‘hujan’ yang jauh lebih mengerikan bila dibandingkan dengan hujan batu sekalipun, baik dari intensitas maupun akibat yang ditimbulkannya.
Yang menghujani saudara-saudara kita di Jalur Gaza (sekali lagi bukan air atau batu) melainkan berton-ton bom, mortir, roket dan juga aneka jenis persenjataan yang mematikan, bahkan banyak kalangan yang mensiyalir saudara-saudara kita di Gaza juga dihujani dengan Fosfor Putih yang bila mengenai kulit mengakibatkan luka bakar yang teramat mengerikan.
Akibat ‘hujan’ yang ditimbulkan adalah rusaknya bangunan,gedung-gedung, dan juga pemukiman atau rumah-rumah penduduk, tak luput Masjid dan Rumah Sakit, yang paling memilukan bila kita melihat kenyataan; hujan tersebut tanpa ampun membantai saudara-saudara kita yang ada disana, tak peduli mereka combatan, penduduk sipil, dokter, wartawan, anak-anak, perempuan, orang tua atau siapapun.
‘Hujan’ tersebut tidak saja menebarkan kematian, tapi juga meninggalkan luka yang tak terperi pada saudara-saudara kita di sana, belum lagi bila kita menyaksikan dampak psikologis yang terjadi pada anak-anak yang mengalami peristiwa ‘hujan’ tersebut.
‘Hujan’ yang terjadi di Gaza bukan baru 3 atau 4 hari, tapi sampai kini sudah memasuki hari ke 19, ‘hujan’ tersebut tiada henti turun, siang, sore, malam dan di pagi hari. Dan entah sampai kapan akan berhenti. Salah satu stasiun televisi nasional kita mengatakan, akankah pembantaian ini hanya akan berakhir sampai darah terakhir menitik dari putra-putri Palestina?
Bila hujan mendera di negeri kita hanya turun dari langit, lain pula ‘hujan’ yang turun di Jalur Gaza, bukan sekedar dari langit/udara, namun juga dari laut, dan daratan, bukan hanya dari timur atau barat, namun dari 8 arah penjuru mata angin, saudara-saudara kita dihujani dengan persenjataan mematikan. Tak kenal ampun membantai siapa saja yang dikehendaki.
Bila hujan yang terjadi di Jakarta adalah sebentuk anugrah ilahi, lain pula ‘hujan’ yang terjadi di sana, adalah ‘hujan’ yang dimuntahkan oleh serdadu Zionis Yahudi Israel. Segolongan manusia terkutuk turun-temurun. Mereka adalah satu komunitas yang tidak pernah memahami bahasa selain perang, menindas dan memusnahkan siapa saja yang dianggap menghalangi mereka, lebih khusus lagi adalah kaum muslimin. Satu bangsa yang dari waktu kewaktu selalu berbuat licik, aniaya dan khianat. Satu bangsa yang tak punya adab dan tata karma. Lihat, sudah berapa banyak perjanjian yang mereka ingkari, berapa banyak resolusi (PBB) yang mereka kangkangi dan juga berapa banyak kaum muslimin mereka bantai.
Liga Arab dan ‘Hujan’ itu
Kita jadi makin merasa pilu, menyaksikan para pemimpin Negara-negara Islam diam seribu bahasa, seakan mereka tidak melihat dan mendengar apa yang dialami oleh saudara-saudara mereka di bumi Palestina, para tetangga Palestina diam membisu, seakan mereka tidak mendengar dan melihatnya. Negara-negara Arab itu, bungkam, diam dan merasa sangat tenang dan nyaman bergelimang kekayaan. Liga Arab yang semestinya menjadi pemersatu bangsa-bangsa Arab (dan Muslim) menghadapi kesewenag-wenangan kaum Kafir Zionis Israel, nyatanya sekarang seperti lumpuh, buta dan bisu, tak berdaya sama sekali
Sekilas profil Liga Arab; Ketika pertama kali didirikan, yaitu pada waktu penandatangan Pact of The League of Arab States 1945 keanggotaan organisasi ini hanya terdiri dari 7 negara saja yakni,
1. Mesir
2. Irak
3. Lebanon
4. Arab Saudi
5. Suriah
6. Yordania, dan
7. Yaman
Kemudian berturut-turut negara yang bergabung adalah;
1. Algeria (1962)
2. Bahrain (1971)
3. Comoros (1993)
4. Djibouti (1977)
5. Kuwait (1961)
6. Libya (1953)
7. Mauritania (1973)
8. Maroko (1958)
9. Oman (1971)
10. Qatar (1971)
11. Somalia (1974)
12. Yaman Selatan (1967)
13. Sudan (1956)
14. Tunisia (1958)
15. Uni Emirate Arab (1971)
Salah satu pengecualian adalah ketika pada tahun 1976 organisasi Pembebasan Palestina atau PLO (Palestine Liberation Organisation) diterima menjadi anggota Liga Arab yang ke-16, padahal PLO bukan sebuah negara yang berdaulat akan tetapi merupakan sebuah bentuk organisasi internal Palestina. Penunjukan ini didasarkan atas semangat kebersamaan negara-negara Arab terhadap agresi militer Israel ke tanah Palestina, namun sekarang posisi PLO telah digantikan oleh Palestina.
Kemudian pada tahun 1979, keanggotaan Mesir dalam Liga Arab dicabut karena Mesir terbukti menandatangani Perjanjian Damai dengan Israel. Dan kantor pusat Liga Arab yang sebelumnya berkedudukan di Kairo, Mesir dipindahkan ke Tunis, Tunisia. Akhirnya delapan tahun kemudian, yakni tahun 1987 para pemimpin dunia Arab memutuskan untuk memperbaharui kembali hubungan diplomatik dengan Mesir dan tahun 1989 Mesir diterima kembali menjadi anggota Liga, disamping itu juga kantor pusat Liga dikembalikan kembali ke Kairo.
Selain itu, Liga Arab juga memiliki negara pengamat (observer country). Observer country ini berperan sebagai pihak pengamat atau pemerhati terhadap semua kegiatan Liga dengan tujuan untuk menjaga independensi Liga. Sebuah observer country tidak memiliki hak dan kewajiban sebagaimana yang dimiliki oleh negara anggota. Sejauh ini telah ada 3 negara yang sekarang menjadi negara pengamat yaitu Eritrea (sejak 2003), Venezuela (2006) dan India (2007).
Proses penerimaan anggota Liga tertuang pada Pasal I dan terbuka bagi negara-negara Arab yang merdeka yang kemudian “akan mempunyai hak untuk memasuki Liga”. Namun demikian, keanggotaan dari negara-negara Libya, Sudan, Maroko, Tunisia, Bahrain, Qatar, Oman, Mauritania, dan Uni Emirat Arab dilakukan dengan permohonan, dan “penerimaan” atas permohonan itu di lakukan oleh Council, sehingga dalam prakteknya keanggotaan itu tidak lagi dipandang sebagai suatu hak.
Dari sekian banyak anggota Liga Arab dua negara telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, yaitu Mesir dengan konsesi dikembalikannya Gurun Sinai, dan Yordania mendapat konsesi Dataran Tinggi Golan.
Ada beberapa sinyalemen kenapa mereka diam membisu atas pembantai yang terjadi di Palestina, diantaranya;
1. Para pemimpin Arab diajngkiti penyakit ‘hubbud dunya’ (cinta dunia) yang demikian akut, mereka khawatir akan kehilangan kekuasaan dan pengaruhnya yang mereka nikmati selama ini. Sebagai contoh; ketika Saddam Hussein masih hidup, Raja Arab Saudi sangat takut bila Saddam terus meluaskan kekuasaannya, kemudian sampai ke tanah Saudi Arabia, Raja Saudi takut ia kehilangan tahtanya bila Saddam mampu menguasai Saudi Arabia, demikian juga ketakutan yang dialami Raja Saudi melihat kenyataan Iran. Sang Raja khawatir, Iran mampu memperluas pengaruh dan kekuasaan di kawasan Timur Tengah, sehingga lambat laun, akan merongrong kekuasaan yang dimilikinya selama ini.
2. Ketakutan tersebut membuat sebagian pemimpin negara-negara Arab tersebut (wa bilkhusus Saudi Arabia) mencari sandaran kepada negara Barat, yang mereka anggap mampu melindungi kekuasaan dan kepentingan mereka dari yang mereka khawatirkan selama ini, seperti misalnya, Saddam Hussein (Almarhum), Iran (dengan Ahmadinejad), HAMAS, Hizbulloh dan semua yang mereka anggap sebagai ancaman. Negara yang paling mereka jadikan sandaran utama dalah Amerika, kenyataan memang menunjukkan bagaimana Amerika dengan senang hati menjadi sekutu Saudi Arabia dan Mesir, tentu saja persekutuan tersebut tidaklah ‘gratis’, melainkan ada konsesi-konsesi yang harus disepakati diantara mereka. Kita bias melihat implikasi yang muncul dari adanya persekutuan tersebut, dintaranya; Saudi Arabia menutup mata dan hati mereka atas penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di tanah Palestina.
3. Sebagian pemimpin negara Arab memang sudah dilenakan dengan kekayaan harta melimpah ruah, yang bukan membuat mereka peduli atau care,tapi kekayaan tersebut malah membutakan mata hati mereka.
4. Bukan rahasia lagi, bahwa ego ‘asobiyah mereka sangat kuat sekali, hal tersbut tidak saja mereka prinsipkan pada asal-usul maupun keturunan, namun juga menyangkut masalah fikroh, serta manhaj, artinya akibat dari kuatnya ‘ashobiyah tersebut membuat mereka akan sangat selektif dalam membantu dan menolong pihak lain, bila yang tengah mengalami musibah tersebut tidak satu suku, fikroh atau juga satu manhaj.
5. Kekayaan harta melimpah ruah mengikis habis daya juang para pemimpin negara-negara Arab, sehingga; “kenapa mesti susah-susah membantu rakyat Palestina, dengan segudang resiko yang mesti ditanggung, sedangkan kami sedang enak-enaknya menikmati hidup ini”?
Kita berdoa, semoga Allah Swt. segera membukakan pintu hati mereka, semoga penderitaan bangsa Palestina segera berakhir.

Thursday, December 18, 2008

Percik Permenungan


“…….Ini adalah pertarungan antara Kapitlisme Anglo Saxon dengan Kapitalisme Eropa Daratan”

Demikian kata Christine Lagarde, Menteri Keuangan Prancis, dalam pertemuan di Sao Paolo Brazil, menjelang pertemuan G 20, pada minggu pertama November 2008 lalu, ia tengah mengambarkan perdebatan yang terjadi dalam pertemuan tersebut, pokok masalah perdebatan adalah; apakah ekonomi liberal yang ada saat ini dibiarkan sebebas-bebasnya sehingga dengan sendirinya pada saatnya nanti akan mencapai titik keseimbangan, atau masih tetap diperlukan adanya regulasi dari pemerintah.

Dari kejadian diatas, semakin menyadarkan kita bahwa saat ini praktis yang menguasai ideologi ekonomi dan politik adalah kaum kapitalis, yang sepanjang sejarah belum pernah mampu membuat masyarakat penghuni planet bumi ini hidup dalam kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian. Namun sebaliknya, yang terjadi adalah ketimpangan, krisis berkepanjangan, perebutan sumber-sumber daya strategis yang membuat dunia semakin runyam dan menjauhkan perdamian.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, adakah ideologi yang akan mampu segera mengantikan kapitalisme (liberal) saat ini? Komunisme yang semula hendak muncul sebagai ‘penyeimbang’ merajalelanya kapitalisme dan liberalisme, kini sudah dibuang ke tempat sampah peradaban dunia ini.

Tentu kita tidak sepakat dengan apa yang diproklamirkan oleh Franscis Fukuyama, seorang ilmuwan yang sangat membanggakan kapitalisme liberal, menurutnya, kita sekarang ini sudah sampai pada titik “the end of ideology”, dimana ideologi kapitalisme dalam bidang ekonomi, dan liberalisme dalam wilayah politik adalah puncak pencapaian pemikiran manusia dalam menjaga, menata dan menyiasati kelangsungan kehidupannya.

Sebab bila kita menganut apa yang ia proklamirkan tersebut, niscaya dunia yang aman damai, sejahtera dan makmur serta berkeadilan hanya akan menjadi angan semata, fakta empiris membuktikan, sebagaimana yang kita rasakan saat ini, dimana ideology kapitalisme dan liberalisme tengah jumawa mencengkeram kehidupan umat manusia.

Satu-satunya harapan yang dapat kita bersandar padanya adalah; Islam, ya Islam dengan segala kelebihan yang ada, cepat atau lambat akan segera mampu menciptakan tata dunia baru,

Meski kita tak bisa menutup mata, bahwa saat ini para pemeluk Islam tengah mengalami aneka problem yang akut, tidak lain dan tidak bukan lebih disebabkan oleh mereka sendiri, dari mulai mereka yang terpesona oleh kilaunya ‘keberhasilan’ para penganut idologi kapitalisme, sampai pada mereka (sesama muslim) yang rajin saling menyalahkan, dan gemar memonopoli kebenaran, sehingga wajar bila Islam, sebuah nilai luhur nana gung yang semestinya mampu menjadi idelogi alternatiif bagi tercipnya tata dunia baru yang menghargai manusia dan kemanusiaan, menghargai prestasi tanpa harus manfikan yang termarjinalisasi, mengedepankan pemerataan namun juga care terhadap mereka yang terbelakang.

Bila Ibu Boleh Memilih

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)
Jakarta, 21 Agustus 2004


Dikutip dari Bila Ibu Boleh Memilih, kumpulan puisi hati Ratih Sanggarwati.